Artikel Ilmiah ANALISIS KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN PROPERTY & REAL ESTATE DI BURSA EFEK INDONES

 

Artikel Ilmiah

ANALISIS KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN PROPERTY & REAL ESTATE DI BURSA

 EFEK INDONESIA 


Dosen Pengampu : Yananto Mihadi Putra, SE, M.si

 

Disusun Oleh :

Kelompok 11

1. Asifah Elsa Nurahma Lubis (43220010001)

2. Amartia Rachmawati (43220010086)

3. Firda Ainun Fadillah (43220010002)

4. Meisa Arifah (43220010080)

5. Zelika azzahra (43220010005)

 

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2021







ABSTRAK

Artikel ilmiah dengan materi “ANALISIS KEBIJAKAN DIVIDEN” ini membahas tentang Kebijakan Dividen secara keseluruhan mulai dari pengertian, Macam-macam, tujuan, dan fungsi Kebijakan Divden serta implementasi kebijakan dividen pada perusahaan. Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel ilmiah ini yaitu pengumpulan informasi dari berbagai sumber media online di internet.

Kebijakan dividen adalah keputusan apakah yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa datang Kebijakan dividen merupakan salah satu keputusan penting perusahaan dan merupakan bagian integral dari keputusan pembelanjaan perusahaan. Pentingnya kebijakan dividen adalah karena laba ditahan merupakan sumber dana internal terbesar dan terpenting bagi pertumbuhan perusahaan.




PENDAHULUAN

Persaingan pasar bebas menciptakan lingkungan dunia usaha dalam kondisi yang penuh tantangan. Pihak manajemen perusahaan harus dapat mengelola kondisi internal perusahaan agar dapat stabil, sehingga pihak eskternal memiliki kepercayaan terhadap manajemen perusahaan dalam persaingan serta bertahan dalam mengelola usaha. Selain perusahaan harus selalu menyesuaikan kondisi perkembangan usaha untuk dapat beradaptasi dengan perubahan pasar, namun juga harus dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan tersebut (Prihanthini dan Sari, 2013).

Menurut Marlina dan Danica (2009) tingkat perkembangan pasar modal dan industri-industri sekuritas pada suatu negara merupakan tolak ukur untuk melihat perkembangan ekonomi negara tersebut. Sementara itu, perusahaan yang ingin dapat bersaing serta bertahan dalam suatu industri harus memperhatikan kegiatan investasinya. Sehingga, perusahaan perlu meyakinkan dan menarik investor untuk berinvestasi danmembeli saham dari perusahaan tersebut. Bagi para penanam modal untuk melakukan keputusan investasi merupakan kebijakan yang strategis, sehingga melakukan itu parainvestor dihadapkan pada berbagai macam resiko dan ketidakpastian yang sulit untuk diprediksi, salah satunya adalah pembayaran dividen (Utami dan Robin, 2015).

Kebijakan dividen memiliki hubungan dengan biaya keagenan yang telah menjadi fokus untuk menjelaskan pembayarandividen dapat digunakan untuk mengontrol biaya keagenan dari perusahaan (Nafiah, 2013). Sementara itu, pembayaran dividen dapat juga dijelaskan oleh teori siklus hidup dividen bahwa perusahaan-perusahaan yang telah berkembang serta mampu tumbuh ke dalam tahap dewasa dengan kemampuan menghasilkan laba yang telah stabil lalu risiko sistemik yang telah menurun, perusahaan tersebut akan mulai membayar dividen kas untuk mendistribusikan pendapatan kepada para pemegang saham (Miletic, 2015).




LITERATUR TEORI

Taofiqkurochman dan Konadi (2012) menjelaskan bahwa kebijakan dividen merupakan suatu kebijakan maupun keputusan yang terkait dengan penggunaan dana para pemegang saham (laba biasa dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk diivestasikan kembali).

Ada beberapa teori tentang kebijakan dividen serta asumsi-asumsi yang melandaskan teori tersebut, antara lain:

1. Teori Dividen adalah tidak Relevan

Teori ini dikemukakan oleh Modigliani dan Miller yang menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba serta risiko bisnisnya atau dengan kata lain kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun biayamodalnya (Khotimah dan Waryati, 2015).

2. Bird in the hand Theory

Teori yang dikemukan oleh Gordon dan Lintner yang menyatakan bahwa investor akan lebih memilih menggunakan dividen yang sudah pasti ditangan daripada realisasi harapan dari keuntungan yang diharapkan pada masa yang akan datang (capital gain)(Afza dan Mirza,2010).

3. Tax Preference Theory

Suatu teori yang menyatakan bahwa jika capital gain dikenakan pajak dengan tarif lebih rendah daripada pajak atas dividen, maka saham yang memiliki pertumbuhan tinggi menjadi lebih menarik. Tetapi sebaliknya jika capital gain dikenai pajak yang sama dengan pendapatan atas dividen, maka keuntungan capital gain menjadi berkurang (Khotimah dan Waryati, 2015) .

Teori Keagenan

Gaffikin (2008) menyatakan bahwa suatu hubungan keagenan terdapat adanya hubungan antara pihak pemilik (prinsipil) yang memberikan kewenangan pengambilan keputusan kepada pihak lainnya yaitu manajemen (agen). Kedua belah pihak akan bertindak berdasarkan kepentingan masing-masing dalam waktu bersamaan. Pemegang saham (shareholders) akan lebih berupaya untuk memaksimalkan kekayaan mereka, sementara manajer akan memaksimalkan penghargaan dari pengelolaan perusahaan tersebut (penghasilan tambahan serta reputasi yang baik).

Kondisi ini dapat menyebabkan perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen sehingga timbul konflik yang disebut agency conflict. Pemegang saham dapat melakukan pengawasan serta mencegah tindakan oportunis dari manager tersebut dengan mengeluarkan biaya untuk melaksanakan hal tersebut, yang disebut biaya keagenan (cost agency) (Dewi, 2008). Sementara itu, Easterbrook (1984) menyatakan bahwa pembayaran dividen dapat menurunkan biaya agensi. Pembayaran dividen dapat mengurangi masalah dalam investasi karena perusahaan yang melaksanakan perdagangan sekuritas (saham) di pasar modal untuk meningkatkan modal tambahan harus melaksanakan peraturan yang terdapat pada pasar modal untuk menciptakan ekuitas baru.

Teori Persinyalan

Teori signaling memberikan sinyal kepada manajemen untuk mengurangu asimetri informasi. Apabila pihak manajemen mempunyai informasi yang lebih banyak mengenai kondisi kinerja dan masa depan perusahaan daripada pemegang saham maka manajemen dapat memberi sinyal dengan mencatat akrual diskrisioner. Jika manajemen mempunyai lebih banyak informasi mengenai kinerja dan prospek perusahaan daripada pemegang saham, dapat memberi sinyal dengan mencatat akrual diskresioner(Widyaningdyah dan Listiyana, 2009) .

Menurut Amidu (2007) berdasarkan informasi yang terdapat pada pembayaran dividen maupun teori signaling, meskipun hal tersebut mendistorsi keputusan investasi untuk capital gain, maka pembayaran dividen merupakan tanda atau sinyal akan sesuatu prospek pada masa yang akan datang. Selain itu, pembayaran dividen yang meningkat merupakan sebuah kabar baik yang akan mempengaruhi reaksi saham dengan positif, hal tersebut dapat berlaku sebaliknya. Perusahaan yang memiliki kinerja yang baik dapat mengirim sinyal ke pasar modal melalui dividen, namun perusahaan yang memiliki kualitas buruk tidak dapat melakukan hal ini karena terdapat biaya sinyal dispatif (untuk biaya transaksi misalnya pembiayaan eksternal, atau denda pajak atas dividen, distorsi keputusan investasi).

Terdapat beberapa pendapat dan teori yang mengemukakan tentang deviden diantaranya yaitu:

1.            Dividend Irrelevance Theory (ketidakrelevanan deviden)

Teori yang menyatakan bahwa kebijakan deviden perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. MM menyimpulkan bahwa nilai perusahaan saat ini tidak dipengaruhi oleh kebijakan deviden. Keuntungan yang diperoleh atas kenaikan harga saham akibat pembayaran deviden akan diimbangi dengan penurunan harga saham karena adanya penjualan saham baru. Oleh karenanya pemegang saham dapat menerima kas dari perusahaan saat ini dalam bentuk pembayaran deviden atau menerimanya dalam bentuk capital gain. Kemakmuran   pemegang saham sekali lagi tidak dipengaruhi oleh kebijakan deviden saat ini maupun dimasa datang.

2.            The Bird in The Hand Theory

Gordon dan Lintner berpendapat bahwa investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran deviden daripada menunggu capital gain. Sementara itu MM berpendapat dan telah dibuktikan secara matematis bahwa investor merasa sama saja apakah menerima deviden saat ini atau menerima capital gain dimasa datang. Gordon dan Lintner beranggapan bahwa para investor memandang satu burung ditangan lebih berharga daripada seribu burung di udara. Sementara itu MM berpendapat bahwa tidak semua investor berkeinginan untuk menginvestasikan kembali deviden mereka diperusahaan yang sama atau sejenis dengan memiliki resiko yang sama, oleh sebab itu tingkat resiko pendapatan mereka dimasa datang bukannya ditentukan oleh kebijakan deviden, tetapi ditentukan oleh tingkat resiko investasi baru.

     3.Tax Preference Theory

Investor menghendaki perusahaan untuk menahan laba setelah pajak dan dipergunakan untuk pembiayaan investasi daripada deviden dalam bentuk kas. Oleh karenanya perusahaan sebaiknya menentukan dividend payout ratio yang rendah atau bahkan   membagikan deviden. Karena deviden cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi daripada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividendyield yang tinggi.

4.            Devidend Relevance Theory (Relevan deviden)

Deviden adalah relevan untuk kondisi yang tidak pasti, investor dapat dipengaruhi oleh kebijakan deviden.




 

PEMBAHASAN


Pengertian Kebijakan Deviden

Pengertian kebijakan dividen (Deviden Police) menurut Agus Sartono (2008:281) menyatakan bahwa :

“ Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang ” .

Pengertian kebijakan dividen menurut Bambang Riyanto (2008:265) menyatakan bahwa :

“ Kebijakan dividen adalah kebijakan yang bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara pengguna pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan dalam perusahaan, yang berarti pendapatan tersebut harus ditanam di dalam perusahaan ” .

Sedangkan pengertian kebijakan dividen menurut I Made Sudana (2011:167) menyatakan bahwa :

“Kebijakan dividen merupakan bagian dari keputusan pembelanjaan perusahaan, khususnya berkaitan dengan pembelanjaan internal perusahaan. Hal ini karena besar kecilnya dividen yang dibagikan akan mempengaruhi besar kecilnya laba yang ditahan”.

Laba ditahan (retained earning) dengan demikian merupakan salah satu dari sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan sedangkan dividen merupakan aliran kas yang dibayarkan kepada para pemeganf saham atau (equity inventors).

Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern atau internal financial. Sebaliknya jika perusahaan memilih untuk menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukan dana intern akan semakin besar.

Macam-Macam Deviden

Berdasarkan bentuk deviden yang dibayarkan, deviden dapat dibedakan atas dua jenis yaitu; deviden tunai (cash dividend) dan deviden saham (stock devidend). Deviden tunai merupakan deviden yang dibagikan dalam bentuk uang tunai. Deviden saham merupakan deviden yang dibagikan dalam bentuk saham dengan proporsi tertentu. Nilai suatu deviden tunai tentunya sesuai dengan nilai tunai yang diberikan, sedangkan nilai suatu deviden saham dapat dihitung dengan rumus harga wajar deviden saham dibagi dengan rasio deviden saham. Berdasarkan periode satu tahun buku maka deviden dapat dibagi atas dua jenis yaitu; deviden interm dan deviden final. Deviden interm merupakan deviden yang dibayarkan oleh perseroan antara satu tahun buku dengan tahun buku berikutnya atau antara deviden final satu dengan deviden final berikutnya. Di Indonesia pada umumnya deviden interm hanya dibayarkan satu kali dalam setahun. Deviden final merupakan deviden hasil pertimbangan setelah penutupan buku perseroan pada tahun sebelumnya yang dibayarkan pada tahun buku

berikutnya. Deviden final ini juga memperhitungkan dan mempertimbangkan hubungannya dengan deviden interm yang telah dibayarkan untuk tahun buku tersebut.

Macam-macam Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen yang dilakukan perusahaan bentuknya bisa bermacam-macam. Menurut Bambang Riyanto (2008:269) menyatakan bahwa ada macam-macam kebijakan dividen yang dilakukan oleh perusahaan antara lain sebagai berikut:

1.            Kebijakan dividen yang stabil

Banyak perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen yang stabil, artinya jumlah dividen perlembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar saham setiap tahunnya berfluktuasi.

2.            Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu

Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang lebih baik perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas jumlah minimal tersebut.

3.            Kebijakan dividen dengan penetapan dividen payout ratio yang konstan

Jenis kebijakan dividen yang ketiga adalah penetapan dividen payout ratio yang konstan. Perusahaan yang menjalankan kebijakan ini menetapkan dividen payout ratio yang konstan misalnya 50%. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan keuntungan netto yang diperoleh setiap tahunnya.

4.            Kebijakan dividen yang fleksibel

Kebijakan dividen yang terakhir adalah penetapan dividen payout ratio yang fleksibel, yang besarnya setiap tahun disesuaikan dengan posisi financial dan kebijakan financial dari perusahaan yang bersangkutan.

Stock Deviden

adalah dividen yang diberikan kepada para pemegang saham dalam bentuk saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan itu sendiri. Di Indonesia saham yang dibagikan sebagai dividen tersebut disebut saham bonus. Dengan demikian para pemegang saham mempunyai jumlah lembar saham yang lebih banyak setelah menerima Stock Dividen. Dividen saham dapat berupa saham yang jenisnya sama maupun yang jenisnya berbeda.. Tujuan perusahaan memberikan stock deviden adalah untuk menghemat kas karena adanya kesempatan investasi yang lebih menguntungkan.

Stock Split

Merupakan kebijakan untuk meningkatkan jumlah lembar saham dengan cara pemecahan jumlah lembar saham menjadi jumlah lembar yang lebih banyak dengan pegurangan nilai nominal saham yang lebih kecil secara proporsional. Oleh karena itu dengan stock splits harga saham menjadi lebih murah. Tujuan stock splits adalah untuk menempatkan harga saham dalam trading range tertentu.

Trading Range Theory memberikan penjelasan bahwa stock split meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Menurut teori ini, manajemen menilai harga saham terlalu tinggi sehingga kurang menarik diperdagangkan. Manajemen berupaya untuk menata  kembali harga saham pada rentang harga tertentu yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Hal ini diharapkan semakin banyak partisipan pasar yang akan terlibat dalam perdagangan. Dengan adanya stock split, harga saham akan turun sehingga akan banyak investor yang mampu bertransaksi. Trading Range Theory atau Liquidity Hypotheses menyatakan bahwa manajemen melakukan stock split didorong oleh perilaku praktisi pasar yang konsisten dengan anggapan bahwa dengan melakukan stock split dapat menjaga harga saham tidak terlalu mahal. Di mana selanjutnya nilai nominal saham dipecah karena ada batas harga yang optimal untuk saham. Tujuan dari pemecahan nilai nominal saham adalah untuk meningkatkan daya beli investor sehingga akan tetap banyak pelaku pasar modal yang mau memperjualbelikan saham yang bersangkutan. Kondisi ini pada akhirnya akan meningkatkan likuiditas saham. Likuidity hypothesis, yaitu dengan pemecahan saham maka harga saham akan lebih rendah, sehingga lebih banyak investor individual terdorong untuk membeli saham dan diharapkan likuiditas saham tersebut meningkat.

Signaling Theory menyatakan bahwa perusahaan yang melaksanakan kebijakan stock split adalah perusahaan yang mempunyai kinerja keuangan cukup baik. Pengumuman stock split juga mmerupakan sinyal bahwa earing dan cash deviden akan meningkat. Peningkatan earing dan cash deviden merupakan gambaran prospek perusahaan yang  baik. Stock split memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga perusahaan yang memiliki kinerja yang baik saja, yang dapat melakukan stock split.

Repurchasing of stock

Sebagai alternatif terhadap pemberian dividen berupa uang tunai ( cash dividen ) , perusahaan dapat mendistribusikan pendapatan kepada pemegang saham dengan cara membeli kembali saham perusahaan ( repuchasing stock ).

Keuntungan stock repurchase bagi pemegang saham :

1.            Stock repuchase sering di pandang sebagai tanda positif bagi investor karena pada umumnya stock repuchase dilakukan jika perusahaan merasa bahwa saham “ undervalued “.

2.            Stock repuchase mengurangi jumlah saham yang beredar dipasar. Setelah stock repuchase ada kemungkinan harga saham naik.

 

Kerugian bagi pemegang saham :

1.            Perusahaan membeli kembali saham dengan harga yang terlalu tinggi sehingga merugikan pemegang saham yang tidak menjual kembali sahamnya.

2.            Keuntungan stock repuchase dalam bentuk capital gains, padahal sebagian investor menyukai dividen.

Keuntungan bagi perusahaan :

1.            Menghindari kenaikan dividen. Jika dividen naik terlalu tinggi dikhawatirkan di masa mendatang perusahaan terpaksa membagi dividen yang lebih kecil ( pada masa sulit atau banyak kebutuhan dana investasi ) yang dapat memberi petanda negatif. Stoc repuchase merupakan alternatif yang baik untuk mendistribusikan penhasilan yang diatas normal ( extraordinary earnings ) kepada pemegang saham.

2.            Dapat digunakan sebagai strategi untuk mengacau usaha pengambil – alihan perusahaan ( yang biasanya dilakukan dengan cara membeli saham sebanyak –b anyaknya hingga mencapai jumlah saham mayoritas ) Stock repuchase dapat menggalkan usaha ini.

3.            Mengubah struktur modal perusahaan. Misalnya, perusahaan ingin meningkatkan rasio hutang dengan cara menggunakan hutang baru untuk membeli kembali saham yang beredar.

4.            Saham yang ditarik kembali dapat dijual kembali ke pasar jika perusahaan membutuhkan tambahan dana.

Kerugian bagi perusahaan adalah :

1.            Dapat merusak image perusahaan karena sebagian investor merasa bahwa stock repuchase merupakan indikator bahwa manajemen perusahaan tidak mempunyai proyek – proyek baru yang baik. Namun demikian, jika perusahaan benar – benar tidak memiliki kesempatan investasi yug baik, ia memang sebaiknya mendistribusikan dana kembali kepada pemegang saham. Tidak banyak bukti empiris yang mendukung alasan ini.

2.            Setelah stock repuchase, pasar mungkin merasa bahwa risiko perusahaan meningkat sehingga dapat menurunkan harga saham.

Jika harus memilih antara stock repuchase dan pembayaran dividen tunai, pada pasar yang sempurna ( dimana tidak ada pajak , biaya komisi untuk jual – beli saham dan efek sinyal dari pemberian dividen ), investor akan indifferent terhadap ke 2 pilihan. Pada pasar yang tidak sempurna, investor mungkin akan memiliki preferensi terhadap salah satu dari ke 2 alternatif tersebut.

Ada 3 metode yang dapat digunakan untuk membeli kembali saham :

1.            Saham dapat dibeli pada pasar terbuka ( open market )

2.            Perusahaan membuat penawaran formal untuk membeli saham perusahaan dalam jumlah tertentu dan harga tertentu ( pendekatan tender offer )

3.            Perusahaan membeli sejumlah sahamnya kembali dari satu atau beberapa pemegang saham besar ( pendekatan negotiated basis )

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Menurut Bambang Riyanto (2008:267), faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan adalah sebagai berikut :

1.            Posisi Likuiditas Perusahaan

Posisi kas atau likuiditas dari suatu perusahaan merupakan faktor yang penting yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menetapkan besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham.

2.            Kebutuhan Dana untuk Membayar Hutang

Apabila perusahaan menetapkan bahwa pelunasan utangnya akan diambilkan dari laba ditahan, berarti perusahaan harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang ini berarti bahwa hanya sebagian kecil saja dari pendapatan atau earning yang dapat dibayarkan sebagai dividen. Dengan kata lain perusahaan harus menetapkan dividen payout ratio yang rendah.

3.            Tingkat Pertumbuhan Perusahaan

Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, makin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Makin besar kebutuhan dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya, perusahaan tersebut biasanya lebih senang untuk menahan earningnya daripada dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham dengan mengingat batasan-batasan biayanya.

4.            Pengawasan terhadap Perusahaan

Pada pembelanjaan intern dalam rangka usaha mempertahankan “control” terhadap perusahaan, berati mengurangi “dividen payout ratio”nya.

Berikut berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden (Sartono, 2001) :

1.            Kebutuhan dana perusahaan

Kebutuhan dana bagi perusahaan dalam kenyataanya merupakan factor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan deviden yang akan diambil. Aliran kas perusahaan yang diharapkan, pengeluaran modal dimasa datang yang diharapkan, kebutuhan tambahan piutang dan persediaan, pola (skedul) pengurangan utang dan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi posisi kas perusahaan harus dipertimbangkan dalam analisis kebijakan deviden.

2.            Likuiditas

Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan deviden. Karena deviden bagi perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar deviden.

3.            Kemampuan meminjam

Kemampuan meminjam dalam jangka pendek tersebut akan meningkatkan fleksibilitas likuiditas perusahaan. Selain itu fleksibilitas perusahaan juga dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk bergerak di pasar modal dengan mengeluarkan obligasi. Perusahaan yang semakin besar dan establish akan memiliki akses yang lebih baik di pasar modal. Kemampuan meminjam yang lebih besar, fleksibilitas yang lebih besar akan memperbesar kemampuan membayar deviden.

4.            Keadaan pemegang saham

Jika perusahaan itu kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajemen biasanya mengetahui deviden yang diharapkan oleh pemegang saham dan dapat bertindak dengan tepat. Jika hampir semua pemegang saham berada dalam golongan high tax (pajak yang lebih tinggi) dan lebih suka memperoleh capital gains, maka perusahaan dapat mempertahankan dividend payout yang rendah. Dengan dividend payout yang rendah tentunya dapat diperkirakan apakah perusahaan akan menahan laba untuk kesempatan investasi yang profitable. Untuk perusahaan yang jumlah pemegang sahamnya besar hanya dapat menilai deviden yang diharapkan pemegang saham dalam konteks pasar.

5.            Stabilitas deviden

Bagi para investor faktor stabilitas deviden akan lebih menarik daripada dividend payout ratio yang tinggi. Stabilitas disini dalam arti tetap memperhatikan tingkat pertumbuhan perusahaan, yang ditunjukkan oleh koefisien arah yang positif. Bagi investor pembayaran dividen yang stabil merupakan indikator prospek perusahaan yang stabil pula dengan demikian resiko perusahaan juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan dengan perusahaan yang membayar deviden tidak stabil.

 

Rumus-rumus yang Digunakan dalam Kebijakan Deviden

1.            Stock deviden : % Stock deviden x Jumlah lembar saham

2.            Saham biasa: : Nilai nominal x (Stock deviden + Jumlah lembar saham)

3.            Agio saham : Agio saham lama + (Stock deviden(NP-NN), jika (NP) > (NN)

Agio saham lama – (Stock deviden(NN-NP), jika (NP) < (NN)

4.            Laba yang ditahan : Laba yang ditahan – (Stock deviden x NP)

Keterangan:

NP: Nilai Pasar

NN: Nilai Nominal

4.1 Gambaran Umum

Implementasi Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Property & Real Estate Di Bursa Efek Indonesia

Perusahaan property dan real estate merupakan salah satu sektor industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perkembangan yang terjadi d industri property dan real estate begitu pesat saat ini dan akan semakin besar di masa yang akan datang. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk sedangkan supply tanah bersifat tetap. Sektor property dan real estate adalah sektor yang bergerak dalam bidang pembangunan perumahan dan pemukiman yang diperlukan oleh masyarakat. Pada tahun 2017 tercatat ada 53 perusahaan di Bursa Efek Indonesia yang termasuk dalam Sektor Property dan Real Estate. Dari jumlah tersebut, didapat sebanyak 11 perusahaan sebagai sampel dalam penelitian ini. Perusahaan-perusahaan yang tidak termasuk dalam sampel penelitian ini, dikarenakan tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Tabel

4.1 menunjukkan daftar gambaran perusahaan

Tabel 4.1

Daftar Perusahaan

No

Kode Perusahaan

Nama Perusahaan

1

BEST

Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk

2

CTRA

Ciputra Development Tbk

3

GMTD

Gowa Makassar Tourism Dev. Tbk

4

GPRA

Perdana Gapuraprima Tbk

5

MKPI

Metropolitan Kentjana Tbk

6

JRPT

Jaya Real Property Tbk

7

LPKR

Lippo Karawaci Tbk

8

MTLA

Metropolitan Land Tbk

9

PUDP

Pudjiadi Prestige Tbk

10

PWON

Pakuwon Jati Tbk

11

SMRA

Summarecon Agung Tbk

 

1. Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk

Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 10 April 2012. Kantor pusat BEST berkedudukan di Kawasan Industri MM 2100, Jl. Sumatera , Cikarang Barat, Bekasi 17520 – Indonesia. Komisaris Utama yaitu Marzuki Usman.

2. Ciputra Development Tbk

Ciputra Development Tbk (CTRA) terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 28 Maret 1994. Kantor CTRA berada di Ciputra World 1 DBS Bank Tower Lantai 39 Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 3-5 Jakarta. Komisaris utama perusahaan CTRA yaitu DR. Ir. Ciputra.

3. Gowa Makassar Tourism Dev. Tbk

Gowa Makassar Tourism Dev. Tbk terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 11 Desember 2000. Kantor pusat GMTD berlokasi di Jalan Metro Tanjung Bunga Mall GTC GA-9 No. 1B Tanjung Bunga, Makassar 90134, Sulawesi Selatan – Indonesia. Komisaris utama yaitu Prof. Didik J. Rachbini.

4. Perdana Gapuraprima Tbk

Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 10 Oktober 2007. Kantor pusat GPRA terletak di Bellezza Arcade Lantai 2 The Bellezza Permata Hijau, Jl. Letjen Soepeno No. 34 Arteri Permata Hijau. Komisaris utama dari perusahaan GPRA yaitu Gunarso S Margono.

5. Metropolitan Kentjana Tbk

Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Juli 2009.Kantor pusat MKPI berlokasi di Jalan Metro Duta Niaga Blok B5 Pondok Indah, Jakarta, 12310. Komisaris utama pada perusahaan Metropolitan Kentjana Tbk yaitu Dra. Siti Hartati Murdaya.

6. Jaya Real Property Tbk

Jaya Real Property Tbk (JRPT) tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 29 Juni 1994. Kantor pusat Jaya Property terletak di CBD Emerald Blok CE/A No. 1, Boulevard Bintaro Jaya Tangerang – 15227. Komisaris Utama dari perusahaan Jaya Real Property Tbk adalah DR. Ir. Ciputra.

7. Lippo Karawaci Tbk

Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 28 Juni 1996. Kantor pusat LPKR terletak di Jl. 7 Boulevard Palem Raya # 22-00, Menara Matahari, Lippo Karawaci Central, Tangerang 15811. Komisaris utama dari perusahaan LPKR yaitu Theo L Sambuaga.

8. Metropolitan Land Tbk

Metropolitan Land Tbk (MTLA) tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 20 Juni 2011. Kantor pusat Metropolitan Land Tbk beralamat di M Gold Tower Lt. 15 Jl. KH Noer Ali, Kalimalang Bekasi 17148. Komisaris Utama perusahaan Metropolitan Land Tbk (MTLA) yaitu Ir. Ciputra.

9. Pudjiadi Prestige Tbk

Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 18 November 1995. Kantor pusat perusahaan PUDP terletak di Gedung Jayakarta Hotel lt. 21 Jl. Hayam Wuruk 126 Jakarta Barat 11180. Komisaris Utama pada perusahaan Pudjiadi Prestige Tbk yaitu Kosmian Pudjiadi, BSISE.,

10. Pakuwon Jati Tbk

Pakuwon Jati Tbk (PWON) tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 9 Oktober 1989. Kantor Pakuwon Jati Tbk terletak pada EastCoast Center Lantai 5 Pakuwon Town Square – Pakuwon City Jl. Kejawan Putih Mutiara 17 Surabaya. Komisaris Utama pada perusahaan ini yaitu Alexander Tedja.

11. Summarecon Agung Tbk

Summarecon Agung Tbk (SMRA) tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 7 Mei 1990. Kantor pusat SMRA berkedudukan di Jl. Perintis Kemerdekaan Kav. No. 42, Jakarta Timur. Komisaris Utama Summarecon Agung Tbk yaitu Ir. Soetjipto Nagaria.

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata- rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi). Data statistic deskriptif selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2

Hasil Analisis Statistik Deskriptif

 

Cash dividend dapat diukur dengan Dividend Per Share (DPS). DPS merupakan perbandingan total dividen kas terhadap jumlah lembar saham. Pada Tabel 4.2 dapat dilihat nilai rata-rata variabel DPS sebesar 37.65982 dengan standar deviasi sebesar 86.95593. Yang dimana nilai standar deviasinya lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata. Artinya, bahwa penyimpangan datanya besar sehingga data tersebar normal. Nilai minimum variabel DPS sebesar 1.000000 dimiliki oleh perusahaan Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) pada tahun 2017 dan perusahaan Pudjiadi Prestige Limited Tbk (PUDP) pada tahun 2017. Sedangkan nilai maksimumnya sebesar 369.0000 dimiliki oleh perusahaan Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) pada tahun 2016 dan tahun 2017.

Profitabilitas yang diukur dengan Current Ratio (CR) merupakan perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar. Pada Tabel 4.2 dapat dilihat nilai rata-rata variabel CR sebesar 2.175091 dengan standar deviasi sebesar 1.434514. Yang dimana nilai standar deviasi lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-rata. Artinya, penyimpangan datanya kecil sehingga data tidak tersebar. Nilai minimum variabel CR sebesar 0.060000 dimiliki oleh perusahaan Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) pada tahun 2016. Sedangkan nilai maksimumnya sebesar 6.910000 dimiliki oleh perusahaan Lippo Karawaci Tbk (LPKR) pada tahun 2015.

Leverage yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER) yang merupakan perbandingan total utang terhadap total ekuitas. Pada Tabel 4.2 dapat dilihat nilai rata-rata variabel DER sebesar 0.913909 dengan standar deviasi sebesar 0.445167. Yang dimana nilai standar deviasinya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-rata. Artinya, penyimpangan datanya kecil sehingga data tidak tersebar normal. Nilai minimum variabel DER sebesar 0.001000 dimiliki oleh perusahaan Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) pada tahun 2015. Sedangkan nilai maksimumnya sebesar 2.240000 dimiliki oleh perusahaan Gowa Makassar Tourism Dev. Tbk (GMTD) pada tahun 2013.

Growth Asset merupakan perbandingan total aset tahun t terhadap total aset tahun t-1 yang dibagi dengan total aset tahun t-1. Pada Tabel 4.2 dapat dilihat nilai rata-rata variabel Growth Asset sebesar 0.182255 dengan standar deviasi sebesar 0.157200. Yang dimana nilai standar deviasinya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-rata. Artinya, penyimpangan datanya kecil sehingga data tidak tersebar normal. Nilai minimum variabel Growth Asset sebesar -0.164000 dimiliki oleh perusahaan Gowa Makassar Tourism Dev. Tbk (GMTD) pada tahun 2015. Sedangkan nilai maksimumnya sebesar 0.804000 dimiliki oleh perusahaan Pakuwon Jati Tbk (PWON) pada tahun 2014.

Profitabilitas yang diukur dengan Earning Per Share (EPS) merupakan perbandingan laba bersih dengan jumlah saham beredar. Pada Tabel 4.2 dapat dilihat nilai rata-rata variabel EPS sebesar 203.7273 dengan standar deviasi sebesar 362.1392. Yang dimana nilai standar deviasinya lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata. Artinya, bahwa penyimpangan datanya besar sehingga data tersebar normal. Nilai minimum variabel EPS sebesar 7.000000 dimiliki oleh perusahaan Pudjiadi Prestige Limited Tbk (PUDP) pada tahun 2016. Sedangkan nilai maksimumnya sebesar 1265.000 dimiliki oleh perusahaan Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) pada tahun 2016.


 


KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulannya sebagai berikut:

Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang. Kebijakan Dividen memiliki beberapa macam yakni, kebijakan dividen yang stabil, kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu, kebijakan dividen dengan penetapan dividen payout ratio yang konstan, kebijakan dividen yang fleksibel. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen yakni, posisi likuiditas perusahaan, kebutuhan dana untuk membayar hutang, tingkat pertumbuhan perusahaan, pengawasan terhadap perusahaan.



DAFTAR PUSTAKA

Agnes, S. (2005). Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.

Djarwanto. (2004). Pokok-Pokok Analisis Laporan Keuangan. BPFE : Yogyakarta.

Kresnawati, Selviningtyas Dwi.(2015).Studi Tentang Kebijakan Dividend an Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PERBANAS Surabaya.

Michell Suharli. 2007. “Pengaruh Profitability dan Investment Oppor-tunity Set Terhadap Kebijakan Di-viden Tunai dengan Likuiditas Se-bagai Variabel Penguat”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Vol 9 (1) pp. 9-17.

Ridwan Sundjaja, dan Inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan. Edisi Keempat. Jakarta: Literata Lintas Media.

Saragih, Vani Gabriella.(2019). Analisis Kebijakan Dividen pada Perusahaan Property dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia  (Studi Kasus Tahun 2013-2017).Universitas Sumatera Utara.

Sutrisno. (2005). Manajemen Keuangan Teori, Konsep dan Aplikasi. Ekonisi.

Wiarta, I., & Kurniasih, E. T. (2017). Analisis Kinerja Keuangan Bank Tabungan Negara (Tbk). STIE Muhammadiyah Jambi.

Zais, Gogor Mustawa.(2017). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Indonesia.Universitas Tridinanti Palembang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penilaian dan Perhitungan Harga Saham Pada PT Unilever Indonesia Tbk.

Artikel Ilmiah ANALISIS STRUKTUR MODAL PADA PT. MUSTIKA RATU TBK DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2010-2015