Artikel Ilmiah Analisis Efektivitas Manejemen Piutang Pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
Artikel Ilmiah
Analisis Efektivitas Manejemen Piutang Pada PT. Indofood Sukses
Makmur Tbk
Dosen Pengampu : Yananto Mihadi Putra, SE,
M.si
Disusun Oleh :
Kelompok 11
1. Asifah Elsa Nurahma Lubis (43220010001)
2. Amartia Rachmawati (43220010086)
3. Firda Ainun Fadillah (43220010002)
4. Meisa Arifah (43220010080)
5. Zelika azzahra (43220010005)
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2020
ABSTRAK
Artikel
Ilmiah dengan materi “Efektivitas Manajemen Piutang” bertujuan untuk
mengidentifikasi kinerja dan mengetahui efektivitas manajemen piutang pada
suatu perusahaan. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal
dari laporan keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. yaitu neraca dan laporan
laba rugi tahun 2011 sampai dengan 2013. Metode penelitian adalah metode
analisis deskriptif kuantitatif dengan
pendekatan yang digunakan dibatasi pada analisis investasi piutang, analisis
rasio keuangan serta analisis horizontal dan vertical. Serta menggunakan metode
seperti pengumpulan informasi dari berbagai sumber media online di internet.
PENDAHULUAN
Pertumbuhan
industri dewasa ini didukung oleh berkembangnya semua lini industri, tidak terkecuali
pada industri makanan dan minuman. PT. Indofood Sukses makmur Tbk merupakan
salah satu produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang terdiri dari
beberapa divisi dan anak perusahaan. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk telah bertansformasi
menjadi perusahaan total food solutions dengan kegiatan operasional yang
mencakup seluruh tahapan produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan
bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia pada usaha retail. PT.
Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan perusahaan yang sudah go public di Bursa
Efek Indonesia dengan kode saham INDF.PT. Indofood Sukses Makmur Tbk melakukan
aktivitas produksi dan perdagangan dalam skala ekonomi yang luas sehingga
memungkinkan terjadinya piutang. Piutang
terjadi karena adanya sistem penjualan kredit atau terjadi karena perbedaan
waktu penyerahan dengan waktu pembayaran. Piutang usaha merupakan piutang yang
terjadi karena adanya penjualan barang atau jasa yang dilakukan secara kredit
dan akan mengakibatkan tuntutan penyerahan barang atau jasa pada masa yang akan
datang. Piutang dalam jumlah normal dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan
dan memperluas pangsa pasar, tetapi piutang dalam jumlah terlalu tinggi akan
menyulitkan perusahaan beroperasi. Piutang memiliki tingkat likuiditas yang
cukup tinggi sehingga menjanjikan pemasukan modal yang dapat digunakan oleh
perusahaan jika pengelolaan tersebut berjalan dengan baik. Perusahaan dituntut
untuk memiliki manajemen piutang dengan membuat kebijaksanaan menyangkut jumlah
piutang, cara pemberian piutang dan evaluasi terhadap piutang. Analisis
efektivitas pengelolaan piutang perlu dilakukan oleh perusahaan karena
bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengelolaan piutang perusahaan, dengan
demikian perusahaan dapat mengambil kebijakan pengelolaan piutang saat ini, penyelesaian
piutang tak tertagih dan pengendalian piutang perusahaan di masa yang akan
datang. Analisis rasio keuangan digunakan untuk menilai efektivitas manajemen
piutang karena memberikan angka-angka sebagai pedoman keberhasilan perusahaan dalam
mengelola piutang. Analisis Horizontal dan Vertikal yang merupakan analisis
yang digunakan untuk membandingkan antar tahun untuk melihat perubahan yang terjadinya
dari tahun sebelumnya, dimana analisis ini menggunakan data laporan keuangan
perusahaan.
LITERATUR TEORI
Definisi
piutang menurut Warren (2006:34) meliputi semua klaim dalam bentuk uang
terhadap pihak lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi lainnya,
piutang biasanya memiliki bagian signifikan dari total aktiva lancar
perusahaan.
Munawir
(2007:61) mendefinisikan piutang sebagai tagihan kepada pihak lain (kepada
kreditor atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara
kredit. Piutang-piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan harus disajikan dalam
neraca secara informatif.
Piutang
merupakan salah satu elemen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar
(Riyanto, 2001:76). Periode perputaran piutang dimulai pada saat kas
dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan, kemudian persediaan dijual secara
kredit sehinga menimbulkan piutang, dan piutang ini berubah kembali menjadi kas
saat diterima pelunasan piutang dari pelanggan.
Perusahaan
dituntut untuk memiliki manajemen piutang dengan membuat kebijaksanaan
menyangkut jumlah piutang, cara pemberian piutang dan evaluasi terhadap
piutang. Analisis efektivitas pengelolaan piutang perlu dilakukan oleh perusahaan
karena bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengelolaan piutang perusahaan,
dengan demikian perusahaan dapat mengambil kebijakan pengelolaan piutang saat
ini, penyelesaian piutang tak tertagih dan pengendalian piutang perusahaan di masa
yang akan datang. Pengertian efektivitas menurut Hani (2003:39) adalah
kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat atas
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, menyangkut bagaimana melakukan
pekerjaan yang benar.
Fungsi
Manajemen Piutang
- Perencanaan, merencanakan anggaran/pos apa saja menggunakan pembayaran kredit.
- Pengorganisasian,
menciptakan kebijakan/prosedur penagihan piutang agar berjalan secara efektif.
- Penerapan
dan Pengarahan, menerapkan kebijakan/aturan yang telah dibuat sehingga
perusahaan mampu mengetahui mana piutang tertagih dan tidak tertagih.
- Pengawasan,
perusahaan mampu mengevaluasi kebijakan piutang yang telah dijalankan. Apakah
pengelolaan piutang berjalan efektif atau justru merugikan.
Tujuan Manajemen Piutang
Pengelolaan
atau manajemen piutang dilakukan agar perusahaan terhindar dari risiko-risiko
yang berasal dari pemasukan kredit seperti :
1) Seluruh
piutang tidak tertagih. Risiko yang terjadi apabila jumlah piutang tidak dapat
tertagih sama sekali. Misalnya kurang pengawasan salah memilih pelanggan dan
potensi lainnya seperti kondisi Negara yang tidak stabil.
2) Piutang
yang tidak dibayar sebagai piutang. Hal ini akan berpengaruh langsung pada
pencatatan keuangan yang berakibat mengurangi laba perusahaan.
3) Pelunasan
piutang lewat jatuh tempo. Hal ini mampu menimbulkan beban tambahan pada
perusahaan yang jika dilakukan berulang maka bisa merugikan perusahaan.
4) Perputaran
piutang yang rendah pada modal yang dapat mengakibatkan modal yang tertanam
dalam piutang semakin besar dan berakhir pada tidak produktifnya modal kerja.
5) Adanya
kecurangan seperti kegagalan penagihan maupun pemasukan data.
6) Data
pelacakan piutang hilang atau rusak.
7) Kinerja
SDM penagih piutang yang buruk.
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI
PIUTANG
Piutang (accounts
receivable) adalah tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang karena
terjadinya transaksi dimasa lalu. Walaupun pada dasarnya semua perusahaan
dagang/industri menginginkan penjualan cash, tetapi karena adanya keterbatasan
daya beli masyarakat, atau alasan lainnya dilakukan penjualan secara kredit.
Penjualan secara kredit akan dapat meningkatkan omset penjualan, akan tetapi
memiliki resiko tertundanya penerimaan kas, sehingga membutuhkan investasi yang
lebih besar. Selain itu dapat juga mengakibatkan kerugian karena menunggak atau
bahkan tidak tertagih. Semakin lama piutang tertunggak akan semakin besar
investasi yang dibutuhkan.
“Piutang (Receivable)
merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa, atau
dari pemberian pinjaman uang. Piutang
mencakup nilai jatuh tempo yang berasal dari aktivitas seperti sewa dan bunga.
Piutang usaha (Account
Receivable) mengacu pada janji lisan untuk membayar yg berasal dari penjualan
produk dan jasa secara kredit. Sedangkan Wesel tagih (Notes Receivable) mengacu
pada janji tertulis untuk membayar.”
Piutang, salah satu
jenis transaksi akuntansi yang mengurusi penagihan konsumen yang berhutang pada
seseorang. Suatu perusahaan, atau suatu organisasi untuk barang dan layanan
yang telah diberikan pada konsumen tersebut. Pada sebagian besar entitas
bisnis, hal ini biasanya dilakukan dengan membuat tagihan dan mengirimkan
tagihan tersebut kepada konsumen yang akan dibayar dalam suatu tenggat waktu yang disebut termin
kredit atau pembayaran.
Dalam kebijakan
perusahaan piutang terbesar itu terlihat pada piutang dagang (Account
Receivable), piutang dagang itu tercipta karena daya tarik yg tinggi konsumen
pada produk hasil ciptaan perusahaan.
Langkah
- langkah manajemen piutang :
· Penetapan
kebijakan kredit
· Pemantauan
· Analisis
perubahan kebijakan piutang usaha
Bagi perusahaan semakin
besar piutang dagang maka artinya semakin besar pula kepemilikan finansial yang
berada di luar perusahaan dan yang akan masuk secara bertahap dan sistematis ke
dalam kas perusahaan.
Penjualan produk secara kredit atau piutang dagang
dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan penjualan agar tercapai sesuai
dengan target yang diinginkan.
B.
JENIS
– JENIS PIUTANG
Piutang dapat digolongkan menjadi 3 golongan berdasarkan jenisnya, yakni sebagai berikut :
1.
Piutang
Usaha
Piutang
usaha adalah sejumlah pembelian kredit dari pelanggan. Piutang timbul sebagai
akibat dari penjualan barang atau jasa. Piutang ini biasanya diperkirakan akan
tertagih dalam waktu 30 sampai 60 hari.
Secara
umum, jenis piutang ini merupakan piutang terbesar yang dimiliki perusahaan.
Piutang usaha merupakan piutang yang dihubungkan dengan aktivitas operasi normal sebuah
bisnis, yaitu penjualan kredit barang atau jasa untuk pelanggan.
Kemudian
faktor-faktor yang mempengaruhi piutang usaha antara lain sebagai berikut:
a)
Volume
Penjualan Kredit
Makin besar proporsi
penjualan kredit dari total penjualan maka jumlah investasi dalam piutang juga
demikian. Artinya, perusahaan harus menyediakan investasi yang lebih besar
dalam piutang dan meski berisiko semakin besar, profitabilitasnya juga akan
meningkat.
b)
Syarat
Pembayaran Penjualan Kredit
Syarat pembayaran
penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila perusahaan menetapkan
syarat pembayaran yang ketat artinya keselamatan kredit lebih diutamakan dari
profitabilitasnya. Syarat pembayaran yang ketat antara lain tampak dari batas
waktu pembayaran yang pendek atau pembebanan bunga yang berat untuk pembayaran
piutang terlambat. Umumnya, syarat pembayaran penjualan kredit dinyatakan
dengan term tertentu, misalnya 2/10 net 30. Ini berarti apabila pembayaran
dilakukan dalam waktu 10 hari sesudah waktu penyerahan barang, si pembeli
akan mendapatkan potongan tunai sebesar
2% dari harga penjualan, dan pembayaran selambat-lambatnya dilakukan dalam
waktu 30 hari sesudah waktu penyerahan barang.
c)
Ketentuan
Tentang Pembatasan Kredit
Dalam penjualan secara
kredit, perusahaan dapat menetapkan batas maksimal bagi kredit yang diberikan
kepada para pelanggan. Makin tinggi batas waktu yang diberikan kepada
pelanggan, makin besar pula dana yang diinvestasikan kedalam piutang.
d)
Kebijakan
dalam Penagihan Piutang
Kebijakan dalam menagih
piutang, secara aktif ataupun pasif, dapat dilakukan oleh perusahaan.
Perusahaan yang menjalankan kebijakan aktif dalam menagih piutang akan
mempunyai pengeluaran dana yang lebih besar untuk membiayai aktivitas ini,
namun dapat memperkecil resiko tidak tertagihnya piutang. Perusahaan juga
berharap agar pelanggan menyetor pembayaran hutang tepat waktu.
2.
Wesel
Tagih.
Wesel Tagih adalah
surat formal yang diterbitkan sebagai bentuk pengukuran utang. Wesel tagih
biasanya memiliki waktu tagih antara 60 – 90 hari atau lebih lama serta
mewajibkan pihak yang berhutang untuk membayar bunga.
Wesel tagih dan piutang
usaha yang disebabkan karena transaksi penjualan biasa disebut dengan piutang
dagang (trade account). Piutang wesel merupakan piutang yang diterbitkan oleh janji
tertulis formal untuk membayar sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu.
3.
Piutang
Lain-Lain.
Piutang
lain-lain adalah mencakup selain piutang dagang, yakni piutang bunga, piutang
gaji, uang muka karyawan, dan restitusi pajak. Secara umum bukan berasal dari
kegiatan operasional perusahaan. Oleh
karena itu, piutang jenis ini
diklasifikasikan dan dilaporkan pada bagian yang secara terpisah dalam neraca.
Jika
piutang ini diharapkan akan tertagih dalam satu tahun, maka piutang tersebut
diklasifikasikan sebagai aktiva lancar. Jika penagihan lebih dari satu tahun,
maka piutang tersebut
diklasifikasikan dalam piutang tidak lancar dan dilaporkan di bawah judul
investasi. Piutang lain-lain merupakan piutang
apapun yang muncul dari transaksi yang tidak secara langsung berhubungan
dengan aktivitas operasi normal sebuah bisnis.
C.
PIUTANG
DAN BAD DEBT
Namun persoalan sering
terjadi pada saat angka penjualan kredit diperbesar adalah meningkatnya potensi
piutang ragu-ragu atau tidak tertagih (Bad Debt). Hal ini dapat terjadi karena
nilai piutang yang dapat ditelusuri oleh perusahaan semakin besar baik dari
nilai piutang maupun jumlah kuantitas pelaku/konsumen.
Semakin besar piutang
ragu-ragu maka semakin besar permasalahan yang harus ditanggung oleh perusahaan
dikemudian hari. Apabila kejadian ini berlanjut lebih jauh maka akan berakibat
pada mengecilnya perolehan keuntungan yang akan diterima.
Suatu piutang yang
bersifat bad debt dapat timbul apabila:
a) Perusahaan
ingin mengejar target penjualan, sehingga angka penjualan dinaikkan. Kenaikan
angka penjualan biasanya menaikkan jumlah bad debt, dan begitu pula sebaliknya.
b) Perusahaan
dalam memperbesar penjualan dengan menaikkan penjualan produk boleh dibeli
secara non tunai. Maka angka piutang tak tertagih artinya otomatis akan
membesar dengan sendirinya.
c) Peniualan
produk vang bersifat non tunai dilakukan secara tidak hati-hati. Artinya ambisi
untuk meningkatkan penjualan menjadi lebih dominan dibandingkan menerapkan
manajemen risiko. Termasuk keinginan yg begitu tinggi mengejar bonus.
d) Perusahaan
memiliki tagihan atau kewajiban dalam bentuk kredit kepada suatu perbankan. Di
sisi lain uang kas perusahaan tidak lagi mencukupi, dengan begitu perusahaan
mengantisipasinya dengan melakukan peniualan non tunai. Seperti bayar down
payment (uang muka) 40% maka sisanya dalam bentuk kredit. Perolehan 40%
tersebut dipakai untuk membayar kewajiban ke perbankan.
Beberapa cara yang
dapat dilakukan oleh perusahaan untuk memperkecil bad debt, yaitu:
a) Menghindari
penjualan produk secara kredit pada saat kondisi menuju krisis moneter.
b) Menghindari
produksi dan penerimaan order pada saat pasar tidak menentu.
c) Prudential
principle (prinsip kehati-hatian) pada saat tingkat persaingan bisnis semakin
tinggi dan inovasi produk perusahaan lambat.
d) Persentase
yang layak untuk piutang, misal: 30-40 % dari total penjualan, atau pada
kondisi ekonomi sangat stabil perusahaan boleh memperbesar hingga 43%.
D.
KEBIJAKAN
KREDIT
Kebijakan kredit adalah sekumpulan
keputusan yang meliputi :
a) Masa
kredit, yang merupakan jangka waktu yang diberikan kepada pembeli untuk
melunasi pembeliannya.
b) Potongan
harga yang diberikan untuk pembayaran lebih cepat, termasuk presentase potongan
harga dan seberapa cepat pembayaran dilakukan untuk mendapatkan potongan.
c) Standar
kredit, yang memiliki arti kekuatan keuangan dan kelayakan kredit yang disyaratkan atas pelanggan yang menerima
fasilitas kredit.
d) Kebijakan
penagihan, yang diukur oleh seberapa keras atau lunaknya perusahaan dalam usaha
menagih akun-akun yang lambat pembayarannya.
Kebijakan
kredit mencakup keputusan untuk menetapkan standar kredit dan kebijakan
penagihan.
1.
Standar
Kredit
Standar kredit berguna untuk
mengungkapkan kemampuan keuangan minimum pelanggan sehingga dapat ditetapkan
pelanggan yang tergolong layak memperoleh kredit. Dengan demikian, perusahaan
dapat meramalkan siapa pelanggan yang akan terlambat dalam membayar
kewajibannya dan siapa pelanggan yang mungkin akan mengakibatkan kerugian
piutang (piutang yang tak tertagih).
2.
Kebijakan
Penagihan
Kebijakan penagihan (collection
policy) adalah prosedur yang meliputi waktu dan cara-cara penagihan agar
pelanggan membayar tepat waktu. Misalnya, perusahaan akan melakukan
langkah-langkah penagihan:
a) Menegur
via telepon kepada pelanggan yang belum membayar pada satu hari setelah batas
akhir penagihan.
b) Menegur
via surat kepada pelanggan yang belum membayar sesudah tujuh hari dari batas
akhir penagihan.
c) Menyerahkan
tugas penagihan kepada penagih utang (debt collector) dari luar perusahaan bagi
perusahaan yang belum membayar pada satu bulan setelah batas akhir penagihan.
E.
METODE
PENILAIAN DAN PENGUMPULAN PIUTANG
Metode
penelitian yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif yaitu metode
dengan
menggunakan
angka-angka sebagai dasar penyelesaian masalah. Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini dibatasi pada analisis investasi piutang, analisis rasiokeuangan
serta analisis horizontal dan vertical.
1.
Analisis
investasi piutang
Investasi piutang mencerminkan
besarnya biaya pengadaan piutang.
Investasi pada piutang
= Penjualan / Perputaran Piutang
Perputaran piutang
= 360 / Rata-Rata Periode Tagih
Rata-rata periode tagih =
Piutang / Rata-Rata Penjualan
2. Analisis Rasio Keuangan
Analisis
rasio keuangan meliputi rasio solvabilitas dan rasio likuiditas. Rasio solvabilitas
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban
finansialnya
(Riyanto, 2001:26). Rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini
adalah debt to equity ratio. Sutrisno (2008:249) mengatakan bahwa debt to equity
ratio merupakan imbangan antara hutang yang dimiliki perusahaaan dengan modal
sendiri.
Debt to equity ratio =
Hutang / Modal Sendiri
Rasio
likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban yang segera harus dipenuhi (Riyanto,2001:18). Rasio likuiditas yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi current ratio dan quick ratio. Current
ratio adalah rasio yang membandingkan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan
dengan hutang jangka pendek (Sutrisno, 2008: 247). Quick ratio merupakan rasio
antara aktiva lnacar sesudah dikurangi
persediaan
dengan hutang lancar (Sutrisno, 2008: 248).
Current Ratio
= Aktiva Lancar / Hutang Lancar.
Quick Ratio
= Aktiva Lancar – Persediaan / Hutang Lancar.
3. Analisis Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas
digunakan untuk mengukur seberapa besar efektivitas perusahaan dalam
memanfaatkan sumber dananya (Sutrisno, 2008:251).
Rasio aktivitas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah receivable turnover (rasio perputaran
piutang) yaitu kemampuan dana yang tertanam dalam piutang berputar dalam suatu
periode tertentu (Riyanto, 2001: 269).
Risiko
Perputaran Piutang = Penjualan / Piutang Rata-Rata.
4.
Analisis
Horizontal dan Analisis Vertikal
Analisis horizontal dilakukan dengan membandingkan suatu pos dalam laporan keuangan dengan pos yang sama pada periode sebelumnya (periode dasar). Analisis horizontal menunjukkan arah perubahan suatu pos dalam laporan keuangan dari satu periode ke periode lainnya. Analisis vertikal dilakukan dengan menghitug komposisi suatu pos dalam laporan keuangan. Analisis vertikal menunjukkan proporsi suatu pos terhadap pos tertentu yang menjadi angka dasar dalam satu laporan keuangan.
F.
IMPLEMENTASI
PADA PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk
1.
Analisis
Investasi Piutang
Investasi pada piutang
menunjukkan besarnya dana yang tertanam dalam satu kali periode
perputaran piutang.
Dana yang tertanam pada piutang ditentukan oleh lamanya periode kredit
berlangsung.
Investasi
Piutang
|
Tahun |
Jumlah
(Rp) |
|
2011 |
3.176.752 |
|
2012 |
3.578.229 |
|
2013 |
4.223.263 |
Tabel diatas memperlihatkan investasi
pada piutang PT. Indofood Sukses Makmur Tbk yang tertinggi terjadi pada tahun
2013 yaitu sebesar Rp 4.223.264 dan meningkat setiap tahunnya. Hal ini
menunjukkan bahwa pengumpulan piutang memakan waktu yang cukup lama sehingga
meningkatkan jumlah piutang yang berarti meningkatnya investasi pada piutang.
2. Analisis Rasio Keuangan
a)
Analisis
Rasio Solvabilitas
Kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh
kewajibannya diukur dengan rasio solvabilitas. Analisis solvabilitas diukur
dengan debt to equity ratio.
Rasio
Solvabilitas
|
Tahun |
Debt
to Equity Ratio |
|
2011 |
0,70 |
|
2012 |
0,74 |
|
2013 |
1,04 |
Tabel di atas memperlihatkan debt to equity ratio
PT. Indofood Sukses Makmur yang tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu 1,04
kali yang berarti Rp 1,04 dari setiap rupiah
modal sendiri menjadi jaminan hutang. Hal ini
menunjukkan bahwa perusahaan memiliki jumlah modal yang tinggi sehingga
perusahaan tidak terlalu memiliki ketergantungan atas modal pinjaman karena
perusahaan merupakan perusahaan terbuka yang sudah menjadi anggota Bursa Efek
Indonesia dan dapat memperoleh modal dari penerbitan dan penjualan saham di
pasar modal.
b)
Analisis
Rasio Likuiditas
Kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendek diukur dengan rasio likuiditas. Analisis rasio
likuiditas dapat diukur dengan current ratio dan quick ratio.
Rasio
Likuiditas
|
Tahun |
Ratio Likuiditas (%) |
|
|
Current Ratio |
Quick Ratio |
|
|
2011 |
190,95 |
140,01 |
|
2012 |
200,95 |
140,82 |
|
2013 |
166,73 |
124,82 |
Tabel di atas memperlihatkan PT. Indofood
Sukses Makmur Tbk adalah perusahaan yang sangat likuid yang ditunjukkan dengan
angka di atas 100% setiap tahunnya baik current ratio maupun quick ratio. Hal
ini berarti perusahaan mampu memenuhi kewajiban yang harus segera dipenuhi
dengan aktiva lancar yang dimiliki. Current ratio tertinggi terjadi pada tahun
2012 yaitu sebesar 200,95% yang berarti setiap hutang lancar Rp 1 dijamin oleh
aktiva lancar sebesar Rp 2,0095 sedangkan quick ratio tertinggi terjadi pada
tahun 2012 yaitu sebesar 140, 82% yang berarti setiap hutang lancar dijamin
oleh aktiva lancar kecuali persediaan sebesar Rp 1,4082. Perbedaan current
ratio dan quick ratio disebabkan oleh adanya persediaan pada perusahaan.
Perusahaan tetap harus memperhitungkan saldo piutang yang merupakan bagian dari
aktiva lancar karena saldo piutang yang besar belum tentu merupakan piutang
pada tahun berjalan tetapi terdapat kemungkinan sebagai piutang yang sudah lama
terjadi dan sulit ditagih.
3. Analisis Rasio Aktivitas
Efisiensi
pengelolaan piutang diukur dengan rasio aktivitas. Rasio aktivitas
menggambarkan keseimbangan antara jumlah investasi dengan besarnya piutang.
Analisis rasio aktivitas dapat diukur dengan receivable turnover (rasio
perputaran piutang).
Rasio Perputaran Piutang
|
Tahun |
Rasio Perputaran Piutang (kali) |
|
2011 |
14,27 |
|
2012 |
13,99 |
|
2013 |
13,67 |
Tabel di atas memperlihatkan rasio perputaran piutang PT. Indofood Sukses Makmur yang menurun menunjukkan meningkatnya kesulitan perusahaan dalam penagihan piutang yang berarti menurunnya tingkat efisiensi penagihan. Efektivitas pengelolaan piutang terbaik terjadi pada tahun 2011 yang ditunjukkan tingkat perputaran piutang yang terjadi pada tahun 2011 sebesar 14,27 kali yang berarti dalam satu tahun rata-ratadana yang tertanam dalam piutang berputar 14,27 kali.
4. Analisis Horizontal
Arah
perubahan pos-pos dalam laporan keuangan dapat digunakan analisis horizontal.
Analisis horizontal dilakukan terhadap pos-pos dalam neraca dan laba rugi.
Analisis Horizontal Neraca
|
Keterangan |
Tahun (%) |
||
|
2011 |
2012 |
2013 |
|
|
Kas |
100 |
102,25 |
102,24 |
|
Piutang |
100 |
94,99 |
142,29 |
|
Persediaan |
100 |
119,07 |
104,86 |
|
Aktiva |
100 |
110,71 |
131,64 |
|
Hutang |
100 |
114,58 |
157,73 |
Tabel
di atas memperlihatkan piutang PT. Indofood Sukses Makmur menurun pada tahun
2012 sebesar 5,01% dari tahun 2011 dan kembali meningkat pada tahun 2012
sebesar 2,42% sedangkan kas tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Persediaan menunjukkan peningkatan tetapi peningkatan persediaan pada tahun
2012 lebih tinggi daripada tahun 2013. Hutang menunjukkan peningkatan, terutama
pada tahun 2013 hutang
meningkat
lebih dari 50% yang disebabkan meningkatnya piutang diimbangi jumlah kas yang
stabil.
Analisis Horizontal Laba Rugi
|
Keterangan |
Tahun |
||
|
2011 |
2012 |
2013 |
|
|
Penjualan |
100 |
110,43 |
115,33 |
|
HPP |
100 |
111,43 |
118,93 |
|
Laba Operasi |
100 |
100,29 |
97,78 |
Tabel
di atas memperlihatkan penjualan pada tahun 2013 meningkat lebih besar dari
tahun 2012 tetapi laba operasi menurun sebesar 2,22%. Laba operasi yang menurun
disebabkan
oleh
meningkatnya harga pokok penjualan pada tahun 2013.
5. Analisis Vertikal
Kontribusi
tiap pos terhadap pos penjualan dapat digunakan analisis vertikal.
Analisis Vertikal Neraca
|
Keterangan |
Tahun (%) |
||
|
2011 |
2012 |
2013 |
|
|
Kas |
24,35 |
22,49 |
17,50 |
|
Piutang |
6,85 |
5,88 |
6,35 |
|
Persediaan |
12,19 |
13,12 |
10,45 |
|
Aktiva |
100 |
100 |
100 |
Tabel
di atas memperlihatkan kas sebagai komponen aktiva lancar memiliki kontribusi
tertinggi pada aktiva yang diikuti persediaan. Piutang memiliki kontribusi
relatif rendah terhadap aktiva yang menunjukkan perusahaan melakukan
pengelolaan piutang cukup baik.
Analisis Vertikal Laba Rugi
|
keterangan |
Tahun (%) |
||
|
2011 |
2012 |
2013 |
|
|
Penjualan |
100 |
100 |
100 |
|
HPP |
72,25 |
72,91 |
75,18 |
|
Laba
Operasi |
27,75 |
27,09 |
24,82 |
Tabel di atas
memperlihatkan kontribusi harga pokok penjualan terhadap penjualan setiap
tahunnya tidak berubah secara signifikan. Konbtribusi harga pokok penjualan
tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu 75,18% sehingga menurunkan laba operasi
tahun 2013 menjadi 24,82%.
KESIMPULAN
Piutang
(accounts receivable) adalah tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang
karena terjadinya transaksi dimasa lalu. Walaupun pada dasarnya semua
perusahaan dagang/industri menginginkan penjualan cash, tetapi karena adanya
keterbatasan daya beli masyarakat, atau alasan lainnya dilakukan penjualan
secara kredit. Penjualan secara kredit akan dapat meningkatkan omset penjualan,
akan tetapi memiliki resiko tertundanya penerimaan kas, sehingga membutuhkan
investasi yang lebih besar. Selain itu dapat juga mengakibatkan kerugian karena
menunggak atau bahkan tidak tertagih. Semakin lama piutang tertunggak akan
semakin besar investasi yang dibutuhkan.
Perusahaan mampu
memenuhi kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang
dimiliki dan perusahaan melakukan pengelolaan piutang dengan cukup baik,
walaupun investasi PT. Indofood Sukses Makmur Tbk pada piutang meningkat, tetapi
perusahaan memiliki modal yang cukup tinggi dan dapat memperoleh modal dari penerbitan
saham di pasar modal. Perusahaan perlu memantau besaran rasio yang berkenaan
dengan piutang karena nilai rasio mencerminkan besarnya saldo piutang dan
efektivitas manajemen piutang.
DAFTAR PUSTAKA
Bintara,
R. (2020). The Effect of Working Capital, Liquidity and Leverage on
Profitability. Saudi Journal of Economics and Finance Abbreviated, 4(1),
28-35.
Hanifah,
S., Sarpingah, S., & Putra, Y. M. (2020). The Effect of Level of Education,
Accounting Knowledge, and Utilization Of Information Technology Toward Quality
The Quality of MSME’s Financial Reports. In The 1st Annual Conference
Economics, Business, and Social Sciences (ACEBISS) 2019, 1(3) (Vol. 1, No.
3).
Oktiwiati,
E. D., & Nurhayati, M. (2020). PENGARUH PROFITABILITAS, STRUKTUR
MODAL, DAN KEPUTUSAN INVESTASI TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Pada Sektor Farmasi
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2017) (Doctoral
dissertation, Universitas Mercu Buana Jakarta).
Putra, Y. M., (2019). Perencanaan
Keuangan Perusahaan dan Manajemen Modal Kerja. Modul Kuliah Manajemen
Keuangan. Jakarta, FEB-Universitas Mercu Buana
Setiany, E.,
Syamsudin, S., Sundawini, A., Putra, Y. M. (2020). Ownership Structure and Firm
Value: The Mediating Effect of Intellectual Capital. International
Journal of Innovation, Creativity and Change, 13 (10)".
Setiany,
E. (2021). The Effect of Investment, Free Cash Flow, Earnings Management, and
Interest Coverage Ratio on Financial Distress. Journal of Social
Science, 2(1), 67-73.
Sulaeman.
2012. Analisis Prosedur Pengendalian
Intern Piutang Usaha, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Hasanuddin.
Surjandari,
D. A., Anggraeni, D., Yulianto, Y., & Religiosa, M. W. (2019). Analysis of
determinants of financial and non-financial aspects for the fund adequacy ratio
(FAR) at pension fund institutions. The Indonesian Accounting Review, 9(2),
181-193.
Tanjung,
P. R. S., & Wahyudi, S. M. (2019). Analysis the Effect Disclosure of
Sustainability Report, Economic Value Added and Other Fundamental Factors of
Companies on Company Value. International Journal of Academic Research
in Accounting, Finance and Management Sciences, 9(2), 237-249.
Sumber
Online Lainnya :
https://www.rusdionoconsulting.com/manajemen-piutang-usaha/
https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Ekonomika/article/download/3578/3333
Komentar
Posting Komentar