Perencanaan Keuangan Perusahaan dan Manajemen Modal Kerja Pada PT Bank Tabungan Negara Tbk
Artikel Ilmiah
Perencanaan Keuangan Perusahaan dan Manajemen Modal Kerja Pada PT Bank
Tabungan Negara Tbk
Dosen Pengampu : Yananto Mihadi Putra, SE, M.Si
Kelompok 11
1. Asifah Elsa Nurahma Lubis (43220010001)
2. Amartia Rachmawati (43220010086)
3. Firda Ainun Fadillah (43220010002)
4. Meisa Arifah (43220010080)
5. Zelika Azzahra (43220010005)
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2021
ABSTRAK
Pada dasarnya Manajemen Modal Kerja merupakan bentuk dari pengelolaan terhadap aktiva lancar dan hutang lancar perusahaan dengan tujuan agar tercapainya keseimbangan antara laba dan resiko sehingga kelak dapat memberikan kontribusi positif terhadap nilai perusahaan, yaitu peningkatan laba dan penurunan resiko. Kondisi perusahaan dipengaruhi oleh Manajemen Modal Kerja dalam meningkatkan dan mengendalikan likuiditasnya. Dimana suatu perusahaan harus menyediakan Modal Kerjanya secara cukup agar dapat menjalankan kegiatan Operasi Perusahaan. Selain itu, kenaikan ataupun penurunan dalam likuiditas dapat dilihat dari Modal Kerja Perusahaan. Modal menjadi penting karena digunakan untuk melakukan aktivitas bisnis perusahaan sehari-hari yang salah satunya digunakan untuk melakukan pembayaran kewajiban jangka pendek yang akan jauh tempo. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki Modal Kerja yang optimal untuk aktivitas bisnis sehari-hari dengan tidak mengesampingkan likuiditas perusahaan, produktivitas, dan efektivitas dari manajer keuangan.
PENDAHULUAN
Setiap perusahaan yang menginginkan agar perusahaannya dapat terus sukses dan berkembang pasti akan selalu membutuhkan dana, baik untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari maupun untuk mebiayai investasi jangka panjangnya. Dana yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan operasional tersebut dinamakan Modal Kerja (Working Capital). Modal Kerja yang telah dikeluarkan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan tersebut diharapkan dapat menghasilkan keuntungan pada perusahaan dalam jangka waktu dekat melalui hasil penjualan barang atau hasil produksinya.
Manajemen modal kerja yang baik sangat penting dalam bidang keuangan karena ketidaktelitian dalam mengelola Modal Kerja dapat menyebabkan kegiatan usaha menjadi terhambat. Kemudian yang harus dipikirkan oleh seluruh masyarakat di negeri ini, yaitu adanya realitas tentang masih banyaknya masyarakat Indonesia yang masih belum kuat secara perekonomian. Untuk itu, kita perlu menemukan solusi dalam mengatasi kemiskinan yang muncul saat ini. Adanya analisis Modal Kerja Perusahaan sangat penting dilakukan untuk mengetahui situasi Modal Kerja saat ini dan dihubungkan dengan situasi keuangan yang akan dihadapi di masa depan, sehingga dari informasi tersebut dapat ditentukan kebijakan apa yang akan diambil oleh perusahaan untuk mengatasi permasalahan keuangan perusahaan.
Manajemen Modal Kerja yang efektif dan efisien menjadi sangat penting untuk pertumbuhan dan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan Modal Kerja maka besar kemungkinannya perusahaan tersebut akan kehilangan pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang tidak memiliki Modal Kerja yang cukup tetapi tidak dapat membayar kewajiban jangka pendek pada waktunya maka akan menghadapi masalah likuiditas.
LITERATUR TEORI
Modal Kerja adalah harta yang dimiliki perusahaan yang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan usaha atau membiayai operasional perusahaan tanpa mengorbankan aktiva yang lain dengan tujuan memperoleh laba yang optimal. Modal Kerja menurut para Ahli, yaitu sebagai berikut:
a) Menurut Sutrisno (2009)
“Modal Kerja merupakan salah satu unsur aktiva yang sangat penting dalam perusahaan karena tanpa Modal Kerja Perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk menjalankan aktivitasnya.”
b) Menurut Agnes Sawir (2005)
“Modal Kerja adalah keseluruhan aktiva lancer yang dimiliki oleh perusahaan atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari seperti pembelian bahan baku, pembayaran listrik, telepon, upah buruk, hutang, dan pembayaran yang lainnya.”
c) Menurut Ridwan S. Sundjaja dan Inge Berlian (2003)
“Modal Kerja dapat didefinisikan sebagai aktiva lancer yang merupakan bagian dari investasi perusahaan dan selalu berputar, dengan tingkat perputaran tidak melebihi jangka waktu satu tahun.”
d) Menurut Munawir (2004)
“Modal Kerja adalah kelebihan nilai aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.”
e) Menurut Indriyo (1992)
“Modal Kerja adalah kekayaan atau aktiva yang diperlukan perusahaan untuk menyelenggarakan kegiatan sehari-hari yang selalu berputar-putar dalam periode tertentu.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Modal Kerja
Modal Kerja mempunyai dua kosakata atau elemen dasar yakni Aktiva lancar (current aset) dan Kewajiban lancar (current liabilities). Dalam Manajemen Modal Kerja memerlukan kedua elemen ini untuk menentukan bagaimana kegiatan operasional kantor agar pengelolaannya berjalan dengan baik.
Manajemen modal kerja (Working Capital Management) menurut Harjito dan Martono merupakan manajemen dan elemen elemen aktiva lancar dan elemen elemen hutang lancar. Modal Kerja adalah sebuah strategi dalam akuntansi yang fokusnya pada pemeliharaan keseimbangan current asset dan liabilities pada perusahaan. Manajemen modal kerja juga melibatkan hubungan antara aset jangka pendek dan kewajiban jangka pendek perusahaan. Dalam hal seperti ini berhubungan pada pengelolaan kas, persediaan dan hutang piutang.
Modal kerja sangat diperlukan dalam menjalankan kegiatan usaha. Setiap perusahaan tentunya membutuhkan modal kerja dalam melakukan kegiatan operasional seharihari. Untuk menunjang setiap aktivitas yang ada dalam suatu perusahaan, tentunya diperlukan modal kerja yang cukup dan baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Dengan adanya modal kerja yang cukup dan baik, perusahaan tidak akan mengalami kesulitan dalam menghadapi krisis ekonomi atau masalah keuangan, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan baik dan optimal agar tujuan perusahaan dapat tercapai.
B. Konsep Modal Kerja
Bambang Riyanto (1995) dalam Yudhistira (2008), mengemukakan 3 (tiga) konsep pengertian modal kerja yaitu:
1. Konsep Kuantitatif
Konsep ini menitik beratkan pada kuantitas dana yang tertanam dalam unsur- unsur aktiva lancar, aktiva ini merupakan aktiva sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau dana yang tertanam dalam aktiva akan dapat bebas lagi dalam jangka pendek. Jadi menurut konsep ini adalah keseluruhan jumlah aktiva lancar. Dalam pengertian ini modal kerja sering disebut modal kerja bruto atau gross working capital.
2. Konsep Kualitatif
Pada pengertian ini konsep modal kerja dikaitkan dengan besarnya jumlah hutang lancar atau hutang yang segera harus dibayar. Jadi modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar diatas hutang lancarnya.
3. Konsep Fungsional
Konsep ini menitik beratkan pada fungsi dana dalam menghasilkan pendapatan. Setiap dana yang digunakan dalam perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Aktiva lancar sebagian merupakan unsur modal kerja, walaupun tidak seluruhnya.
C. Komponen Modal Kerja
Komponen Modal kerja yang dibahas yaitu Modal Kerja dalam konsep kualitatif, yaitu Modal Kerja neto (net working capital) yang merupakan kelebihan antara aktiva lancar di atas utang lancarnya. Komponen modal kerja mencakup aktiva lancar dan utang lancar, yaitu:
1. Aktiva Lancar
Menurut ahli, Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal. Yang termasuk aktiva lancar adalah:
- Kas (Cash). Uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk membiayai operasi perusahaan.
- Investasi Jangka Pendek (Temporary Investment). Obligasi pemerintah, obligasi perusahaan indusri, dan surat-surat utang sejenis, dan saham perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali dikenal sebagai investasi jangka pendek.
- Wesel Tagih (Notes Receivable). Tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu promes.
- Piutang Dagang (Accounts Receivable). Piutang dagang meliputi keseluruhan tagihan atas langganan perseorangan yang timbul karena penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit.
- Penghasilan Yang Akan Masih Diterima (Account Receivable). Penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena telah memberikan jasa-jasanya kepada pihak lain, tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan tagihan.
- Persediaan Barang (Inventories). Barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali, yang masih ada di tangan pada saat penyusunan neraca
- Biaya Yang dibayar dimuka ( Prepaid Expense). Pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi biaya atau jasa dari pihak lain yang belum dinikmati oleh perusahaan pada periode yang sedang berjalan.
Menurut ahli Munawir Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayaran akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancer yang dimiliki oleh perusahaan. Hutang lancar merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, atau utang yang jatuh temponya masuk siklus akuntansi yang sedang berjalan. Dan yang termasuk hutang lancar adalah:
- Hutang Dagang (Account Payable) Hutang Dagang Adalah semua pinjaman yang timbul karena pembelian barang-barang dagangan atau jasa secara kredit.
- Penghasilan Yang Ditangguhkan (Differed Revenue) Penghasilan yang diterima terlebih dahulu merupakan penghasilan yang sebenarnya yang belum menjadi hak perusahaan.
- Hutang Dividen (Divident Payable) Hutang dividen merupakan bagian laba perusahaan yang diberikan sebagai deviden kapada pemegang saham, tetapi belum dibayarkan ketika neraca disusun.
- Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja Merupakan keseluruhan atau jumlah dari periode yang meliputi jangka waktu pemberian kredit beli, lama penyimpanan bahan mentah di gudang, lamamya proses produksi, lamanya barang di simpan digudang, jika waktu penerimaan piutang.
- Pengeluaran kas rata-rata setiap hari Merupakan jumlah pengeluaran kas rata-rata setiap hari untuk keperluan bahan mentah, bahan pembantu, pembayaran upah buruh, dan lain-lain.
Modal Kerja Menurut ahli A.W Taylor mengatakan ada dua jenis modal kerja yang dikelompokkan yakni:
1. Modal Kerja Permanen
Modal Kerja Permanen merupakan modal kerja yang wajib dan harus selalu ada di setiap atau dalam perusahaan perusahaan agar di perusahaan tersebut dapat menjalankan setiap kegiatannya untuk memenuhi setiap kebutuhan konsumen. Jenis modal kerja permanaen dibagi menjadii dua , yakni:
- Modal Kerja Primer, merupakan Modal Kerja yang minimal harus ada dalam setiap perusahaan agar fungsinya untuk menjamin si perusahaan tersebut dapat tetap untuk beroperasi.
- Modal Kerja Normal, merupakan Modal Kerja yang wajib dan harus ada agar si perusahaan terbiasa hanya untuk bisa beroperasi dengan tingkat produksi yang normal.
Modal Kerja Variabel yaitu Modal Kerja yang jumlahnya itu berubah ubah yang menyesuaikan dengan setiap perubahan kegiatan maupun keadaan yang lain yang bisa mempengaruhi perusahaan tersebut atau bisa berfluktuasi dengan berdasarkan peningkatan atau volume dari penjualan atau produksi. Dalam Modal Kerja Variabel, terdiri dari:
- Modal Kerja Siklus, merupakan suatu Modal Kerja yang tingkat fluktuasi konjungfurnya dipengaruhi oleh jumlah kebutuhan.
- Modal Kerja Musiman, merupakan jumlah dana yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk pencegahan atau antisipasi jika ada fluktuasi di setiap kegiatan perusahaan.
- Modal Kerja Darurat dalam Modal Kerja ini jumlah di setiap kebutuhannya akan dipengaruhi oleh setiap keadaan keadaan yang terjadi pada luar kemampuan di perusahaan. Sebuah usaha akan dikatakan sehat jika posisi pada modal kerjanya stabil.
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja
Dalam mengambil kebijakan mengenai modal kerja, pihak manajemen selaku pengambil keputusan harus memperhatikan faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi modal kerja. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja menurut Kasmir (2015:254), yaitu:
1. Jenis Perusahaan Jenis
kegiatan perusahaan dalam praktiknya meliputi dua macam, yaitu : perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa dan non jasa (industri). Kebutuhan modal dalam perusahaan industri lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan jasa. Di perusahaan industri, investasi dalam bidang kas, piutang dan persediaan relatif lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan sangat menentukan kebutuhan akan modal kerjanya.
2. Syarat Kredit
Syarat kredit atau penjualan yang pembayarannya dilakukan dengan mencicil (angsuran) juga sangat memengaruhi modal kerja. Untuk meningkatkan penjualan bias dilakukan dengan berbagai cara dan salah satunya adalah melalui penjualan secara kredit. Penjualan barang secara kredit memberikan kelonggaran kepada konsumen untuk membeli barang dengan cara pembayaran diangsur (dicicil) beberapa kali untuk jangka waktu tertentu. Hal yang perlu diketahui dari syarat-syarat kredit dalam hal ini adalah:
- Syarat untuk pembelian bahan atau barang yang akan digunakan untuk memproduksi barang memengaruhi modal kerja. Pengaruhnya berdampak terhadap pengeluaran kas. Jika persyaratan kredit lebih mudah, akan sedikit uang kas yang keluar, demikian pula sebaliknya, syarat untuk pembelian bahan atau barang dagangan juga memiliki kaitannya dengan persediaan.
- Syarat penjualan, apabila syarat kredit diberikan relatif lunak seperti potongan harga, modal kerja yang dibutuhkan semakin besar dalam sector piutang. Syarat-syarat kredit yang diberikan apakah 2/10 net 30 atau 2/10 net 60 juga akan memengaruhi penjualan kredit. Agar modal kerja diinvestasikan dalam sector piutang dapat diperkecil, perusahaan perlu memberikan potongan harga. Kebijakan ini disamping bertujuan untuk menarik minat debitur untuk segera membayar utangnya, juga untuk memperkecil kemungkinan risiko utang yang tidak tertagih.
Untuk waktu produksi, artinya jangka waktu atau lamanya memproduksi suatu barang. Makin lama waktu yang digunakan untuk memproduksi suatu barang, maka akan semakin besar modal kerja yang dibutuhkan. Demikian pula sebaliknya semakin pendek waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi modal kerja, maka semakin kecil modal kerja yang dibutuhkan.
4. Tingkat Perputaran Persediaan
Pengaruh tingkat perputaran persediaan terhadap modal kerja cukup penting bagi perusahaan. Semakin kecil atau rendah tingkat perputaran, kebutuhan modal kerja semakin tinggi, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, dibutuhkan perputaran sediaan yang cukup tinggi agar memperkecil risiko kerugian akibat penurunan harga serta mampu menghemat biaya penyimpanan dan pemeliharaan persediaan.
F. Sumber Modal Kerja
Modal kerja yang dibutuhkan perusahan dapat bersumber dari laba bersih yang diperoleh, penjualan aktiva dan dapat juga berasal dari investasi yang dimiliki perusahaan. Menurut Kasmir (2015:256), sumber-sumber dana untuk modal kerja dapat diperoleh dari penurunan jumlah aktiva dan kenaikan passiva. Berikut beberapa sumber modal kerja yang dapat digunakan, yaitu:
1. Hasil Operasi Perusahaan
Hasil Operasi Perusahaan adalah pendapatan atau laba yang diperoleh pada periode tertentu. Pendapatan atau laba yang diperoleh perusahaan ditambah dengan penyusutan. Seperti misalnya cadangan laba, atau laba yang belum dibagi. Selama laba yang belum dibagi perusahaan dan belum atau tidak diambil pemegang saham, hal tersebut akan menambah modal kerja perusahaan. Namun, modal kerja ini sifatnya hanya sementara waktu saja dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama.
2. Keuntungan Penjualan Surat-Surat Berharga
Keuntungan penjualan surat-surat berharga juga dapat digunakan untuk keperluan modal kerja. Pasar keuntungan tersebut adalah selisih antara harga beli dengan harga jual surat berharga tersebut. Namun, sebaliknya jika terpaksa harus menjual surat-surat berharga dalam kondisi rugi, otomatis akan mengurangi modal kerja.
3. Penjualan Saham
Penjualan saham artinya perusahaan melepas sejumlah saham yang masih dimiliki untuk dijual kepada berbagai pihak. Hasil penjualan saham ini dapat digunakan sebagai modal kerja. 4. Penjualan Aktiva Tetap Maksudnya yang dijual disini adalah aktiva tetap yang kurang produktif atau masih menganggur. Hasil penjualan ini dapat dijadikan uang kas atau piutang sebesar harga jual.
5. Penjualan Obligasi
Penjualan obligasi artinya perusahaan mengeluarkan sejumlah obligasi untuk dijual kepada pihak lainnya. Hasil penjualan ini juga dapat dijadikan modal kerja, sekalipun hasil penjualan obligasi lebih diutamakan kepada investasi perusahaan jangka panjang.
6. Memperoleh Pinjaman
Mengenai memperoleh pinjaman dari kreditor (bank atau lembaga lain), terutama pinjaman jangka pendek, khusus untuk pinjaman jangka panjang juga dapat digunakan, hanya saja peruntukkan pinjaman jangka panjang biasanya digunakan untuk kepentingan investasi. Dalam praktiknya pinjaman, terutama dari dunia perbankan ada yang dikhususkan untuk digunakan sebagai modal kerja, walaupun tidak menambah aktiva lancar.
7. Dana Hibah
Mengenai perolehan dana hibah dari berbagai lembaga, ini juga dapat digunakan sebagai modal kerja. Dana hibah ini biasanya tidak dikenakan beban biaya sebagaimana pinjaman dan tidak ada kewajiban pengembalian
G. Analisis Kebutuhan Modal Kerja Pada PT Bank Tabungan Negara Tbk
Modal kerja juga disebut manajemen keuangan jangka pendek. Dalam perspektif yang luas, manajemen keuangan jangka pendek merupakan upaya perusahaan untuk mengadakan penyesuaian keuangan terhadap perubahan jangka pendek; perusahaan harus memberi tanggapan yang cepat dan efektif. Bidang keputusan ini sangat penting karena sebagian besar waktu manajer keuangan digunakan untuk menganalisis setiap perubahan aktiva lancar dan utang lancar. Laporan keuangan perubahan modal kerja menggambarkan situasi atau keadaan keuangan suatu badan usaha. Laporan perubahan modal kerja menggambarkan kenaikan atau penurunan setiap elemen aktiva lancar, hutang lancar serta perubahan total modal kerja dalam suatu periode tertentu. Untuk memperjelas posisi perubahan modal kerja, maka berikut ini akan dipaparkan laporan keuangan PT Bank Tabungan Negara Tbk peride 2013 dan 2014 sebagai berikut.
Untuk menganalisis analisis modal kerja pada PT Bank Tabungan Negara, maka digunakan laporan keuangan dan neraca bank selama beberapa periode, dengan rumus:
1. Rasio total aktiva terhadap modal kerja bersih (Total assets to net working capital), dimana:
- Rasio total aktiva terhadap modal kerja bersih tahun 2013: Total assets to net working capital ratio = 131.169.730 ÷ 1.443.057 = 9,089.
- Rasio total aktiva terhadap modal kerja bersih tahun 2014: Total assets to net working capital ratio = 144.575.961 ÷ 1.115.625 = 12,959.
- Rasio kewajiban lancar Tahun 2013 adalah sebagai berikut: Current Liabilities to net working capital = 152.872.020 ÷ 1.443.057 = 8,288.
- Rasio Kewajiban Lancar Tahun 2014 adalah sebagai berikut: Current Liabilities to net working capital = 132.369.555 ÷ 1.115.625 = 11,865.
- Perputaran Modal Kerja tahun, 2013 adalah sebagai berikut: Working Capital Turnover = 11.556.753 ÷ 1.443.057 = 8,008.
- Perputaran Modal Kerja Tahun 2014 adalah sebagai berikut: Working Capital Turnover = 12.206.406 ÷ 1.115.625 = 10,941.
a) Rasio Total Aktiva terhadap Modal Kerja bersih pada tahun 2013 adalah sebesar 9,089, dan pada tahun 2014 adalah sebesar 12,959. Hal ini menandakan bahwa Rasio Total Aktiva terhadap Modal Kerja dijamin oleh aktiva lancar dan hutang lancar. Hal ini menggambarkan bahwa PT. Bank Tabungan Negara Tbk Cabang Manado mampu mengelola modal kerja bersih secara efektif dan efisien.
b) Rasio Kewajiban Lancar terhadap modal kerja PT Bank Tabungan Negara Tbk pada tahun 2013 adalah sebesar 8,288, dan pada tahun 2014, sebesar 11,865. Rasio Kewajiban Lancar ini merupakan ekspresi alternatif dari current ratio. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban lancarnya setiap tahunnya menurun sejak tahun 2013 dan tahun 2014, dimana terjadi penurunan sebesar 3,577 dari selisih antara 8,288 pada tahun 2013 dengan 11,865 pada tahun 2014. Hal ini berarti, current ratio rendah dan mengakibatkan rasio ini akan tinggi dan mengindikasikan tingkat liquiditas rendah. Ini berarti, pihak bank berhasil melakukan penekanan terhadap kewajiban lancarnya untuk meningkatkan pendapatan Bank sehingga rasio Kewajiban Lancar PT Bank Tabungan Negara Tbk Cabang Manado adalah stabil.
c) Rasio Perputaran Modal Kerja (Revenues to net working capital ratio) mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar. Jika rasio perputaran modal kerja tinggi mengindikasikan likuiditas yang rendah untuk mendukung operasional, rasio yang rendah menunjukan likuiditas tinggi. Dilihat dari trend di atas maka dapat diketahui bahwa perputaran modal kerja pada tahun 2013 adalah sebesar 8,008, dan pada tahun 2014 sebesar 10,941. Itu berarti terdapat kenaikan setiap tahunnya dari tahun 2013 ke tahun 2014 dengan selisih 2,933. Peningkatan ini disebabkan karena Modal Kerja Bersih mengalami peningkatan.
H. Arti Penting dan Tujuan Modal Kerja
Modal kerja memiliki arti yang sangat penting bagi operasional suatu perusahaan. Modal kerja yang cukup akan sangat membantu perusahaan dalam membiayai pengeluaran-pengeluaran perusahaan sehari-hari didalam menjalankan akivitasnya dan tidak akan mengalami kesulitan keuangan, seperti menutup kerugian atau mengatasi krisis keuangan.. Menurut Kasmir (2015:252), secara umum arti penting modal kerja bagi perusahaan terutama bagi kesehatan keuangan perusahaan, yaitu sebagai berikut :
1. Kegiatan seorang manajer keuangan lebih banyak dihabiskan di dalam kegiatan operasional perusahaan dari waktu ke waktu. Ini merupakan manajemen modal kerja.
2. Investasi dalam aktiva lancar cepat dan sering kali mengalami perubahan serta cenderung labil. Sedangkan aktiva lancar adalah modal kerja perusahaan, artinya perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap modal kerja. Oleh karena itu, perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari manajer keuangan.
3. Dalam praktiknya sering kali bahwa separuh dari roral aktiva merupakan bagian dari aktiva lancar yang merupakan modal kerja perusahaan. Dengan kata lain, jumlah aktiva lancar sama atau lebih dari 50% dari total aktiva.
4. Bagi perushaan yang relative kecil, fungsi modal kerja amat penting. Perusahaan kecil, relative terbatas untuk memasuki pasar modal besar dan jangka panjang. Pendanaan perusahaan lebih mengandalkan pada utang jangka pendek, seperti utang dagang, utang bank satu tahun yang tentunya dapat mempengaruhi modal kerja.
5. Terdapat hubungan yang sangat erat antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan modal kerja. Kenaikan penjualan berkaitan dengan tambahan, piutang, persediaan dan juga saldo kas. Demikian pula sebaliknya apabila terjadi penurunan penjualan, akan berpengaruh terhadap komponen dalam aktiva lancar.
Menurut Jumingan (2011:67), pentingnya modal kerja sebagai berikut :
Modal kerja sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup agar memungkinkan perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami kesulitan keuangan, misalnya dapat menutup kerugian dan mengatasi keadaan krisis atau darurat tanpa membahayakan keadaan keuangan perusahaan.
Menurut Kasmir (2015:253), tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan adalah sebagai beikut :
1. Guna memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan.
2. Dengan modal kerja yang cukup perusahaan memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban pada waktunya.
3. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki persediaan yang cukup dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggannya.
4. Memungkinkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana dari para kreditor, apabila rasio keuangannya memenuhi syarat.
5. Memugkinkan perusahaan memberikan syarat kredit yang menarik minat pelanggan, dengan kemampuan yang dimilikinya.
6. Guna memaksimalkan penggunaan aktiva lancar guna meningkatkan penjualan dan laba.
7. Melindungi diri apabila terjadi krisis modal kerja akibat turunnya nilai aktiva lancer.
Sedangkan menurut Munawir (2010:116) peranan modal kerja tersebut adalah untuk:
1. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
2. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.
3. Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.
4. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya.
5. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan.
6. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kerdit yang lebih menguntungkan kepada para langganan.
KESIMPULAN
Setiap perusahaan membutuhkan modal untuk membelanjai operasi sehari-hari, kemudian dana yang telah dikeluarkan itu kembali lagi masuk dalam perusahaan dari hasil penjualan barang-barang yang telah diproduksi oleh perusahaan tadi. Elemen-elemen dari modal kerja seperti persediaan, piutang, dan kas pada hakikatnya mengalami perputaran sampai kembali lagi menjadi bentuk kas dengan nilai yang lebih tinggi dari semula kas itu dikeluarkan. Investasi-investasi ini lah yang dibutuhkan dalam perusahaan karena sifatnya yang sangat fleksibel sehingga mampu untuk menyesuaikan nilai barang terhadap gejolak pasar yang kian naik kian menurun. Modal kerja sangat berperan penting di dalam menjalankan aktivitas perusahaan seperti memenuhi biaya operasional, membeli persediaan yang cukup, membayar kewajiban, memberi kredit kepada palanggan, dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Agnes Sawir (2005), Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, Edisi Kelima. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Bambang Riyanto (1995). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada.
Sutrisno.(2005).Manajemen Keuangan Teori, Konsep, dan Aplikasi.Yogyakarta:Ekonisi.
Weston dan Brigham (1986). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan (Jakarta: Erlangga S. Munawir, 2004. Analisis Laporan Keuangan, Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Ridwan S. Sundjaja dan Inge Berlian. 2003. Manajemen Keuangan. Edisi 5. Jakarta: Literata.
Bambang Riyanto. 1995. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Jumingan. 2011. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Munawir, S. 2010. Analisis laporan Keuangan Edisi keempat. Cetakan Kelima Belas. Yogyakarta: Liberty
Kasmir. 2015. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Hanifah, S., Sarpingah, S., & Putra, Y. M. (2020). The Effect of Level of Education, Accounting Knowledge, and Utilization Of Information Technology Toward Quality The Quality of MSME’s Financial Reports. In The 1st Annual Conference Economics, Business, and Social Sciences (ACEBISS) 2019, 1(3) (Vol. 1, No. 3).
Sumber lainnya :
http://eprints.polsri.ac.id/4164/3/BAB%20II.pdf
http://eprints.umsida.ac.id/6767/1/Riris%20Eka%20Widayanti_Working%20Capit al%20Management.pdf http://eprints.polsri.ac.id/3745/3/BAB%20II.pdf
Komentar
Posting Komentar