Analisis Kondisi dan Kinerja Keuangan PT. Bank Tabungan Negara Tbk.
Artikel Ilmiah
Analisis Kondisi dan Kinerja Keuangan PT. Bank Tabungan
Negara Tbk.
Dosen Pengampu : Yananto Mihadi Putra, SE, M.si
Disusun Oleh :
Kelompok 11
1. Asifah Elsa Nurahma Lubis (43220010001)
2. Amartia Rachmawati (43220010086)
3. Firda Ainun Fadillah (43220010002)
4. Meisa Arifah (43220010080)
5. Zelika azzahra (43220010005)
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2020
ABSTRAK
Artikel
ilmiah dengan materi “ Analisis Kondisi dan Kinerja keuangan ” ini membahas
tentang pentingnya Analisa Kondisi dan Kinerja
Keuangan dengan Menggunakan Laporan Keuangansecara
keseluruhan mulai dari pengertian Bank, laporan keuangan Bank, manfaat laporan
keuangan, rasio keuangan Bank. Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel
ilmiah ini yaitu pengumpulan informasi dari berbagai sumber media online di
internet.
Kinerja keuangan
adalah gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu baik
menyakut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur
dengan indikator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas.
PENDAHULUAN
Manajemen
modal kerja merupakan bidang yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Banyak
perusahan yang berskala besar atau kecil akan mempumyai perhatian yang besar di
bidang manajemen, terutama dalam perkembangan dunia usaha yang semakin maju.
Analisis manajemen modal kerja akan membantu manajer keuangan dalam
melaksanakan kegiatan perusahaannya dalam hal menentukan jumlah dana yang harus
tersedia dan untuk dapat melihat asal sumber dana itu diperoleh. Manajemen
modal kerja memiliki peranan besar dalam peningkatan probabilitas dan
profitabilitas. Selain itu, peningkatan investasi dalam modal kerja akan
mempengaruhi profitabilitas.
Dalam
berbagai literatur, ditemukan bahwa Pengkajian tentang modal kerja pada
prinsipnya mengarah pada dua hal terpenting, yakni current assets atau aktiva
lancar dan current liabilities atau hutang lancar.Aktiva lancar berhubungan
dengan kas, marketable securities (surat-surat berharga), piutang dan
inventori. Sedangkan hutang lancar terdiri dari hutang-hutang jangka pendek
seperti hutang wesel, hutang perniagaan dan hutanghutang pada bank lainnya yang
berusia kurang dari satu tahun. Kedua unsur inilah yang merupakan aspek
terpenting dalam manajemen modal kerja bidang perbankan. Aktiva lancar akan
sangat berpengaruh pada likuiditas. Jika setiap aktiva lancar dikelola secara
efisien, akan dapat mempertahankan likuiditas badan usaha pada taraf yang aman.
Sebaliknya jika tidak dikelola secara efisien akan berdampak pada penurunan
aktivitas badan usaha dan mempengaruhi tingkat resiko likuiditas yang cukup
tinggi.oleh karena itu,manajemen dituntut untuk selalu peka terhadap setiap
perubahan,baik yang berasal dari lingkungan sendiri maupun yang berasal dari
luar.
PT
Bank Tabungan Negara (Persero) adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara. PT
Bank Tabungan Negara Tbk, khususnya cabang Manado mempunyai visi “Menjadi bank
terkemuka dalam pembiayaan perumahan dan mengutamakan kepuasan nasabah.” Sesuai
dengan visi yang diemban maka Bank BTN merupakan satu-satunya bank umum yang
fokus bisnisnya terhadap pembiayaan perumahan baik subsidi maupun yang non
subsidi. Dalam pengelolaan manajemen modal kerjanya, pimpinan bank tidak akan
terlepas dari permasalahan pengelolaan modal kerja. Dengan fokus utama pada
penyediaan kredit perumahan, maka tentu saja pihak manajemen bank berurusan
dengan pengelolaan modal yang tidak sedikit.Jika dalam pengelolaan modal
kerjanya, pihak bank tidak teliti dan jeli dalam perencanaan sampai pada
pengawasannya, maka bisa mengakibatkan kegagalan dalam pengelolaan modal kerjanya.Data
awal penelitian ditemukan bahwa PT Bank Tabungan Negara Tbk Cabang Manado dalam
pengelolaan manajemen kerjanya, selalu memperhatikan keterkaitan antara modal
kerja dan penggunaan modal kerja dalam analisis manajemen modal
kerjanya.current assets atau aktiva lancar dan current liabilities atau hutang
lancar merupakan dua hal pokok yang menjadi fokus analisis manajemen modal
kerja.
LITERATUR TEORI
1. PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN
Menurut Harahap (2013 : 105) laporan keuangan menggambarkan
kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau
jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah
neraca, laporan laba rugi, atau hasil usaha, laporan arus kas, laporan
perubahan posisi keuangan. Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan
Indonesia (2015) dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No. 1 dikemukakan bahwa
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan dan laporan
keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca,
laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan
dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus
dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian
integral dari laporan keuangan. Di samping itu termasuk juga skedul dan
informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya informasi
keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan
harga.
Jenis-jenis
Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2013 : 106) jenis laporan keuangan perusahaan
yang merupakan informasi utama bagi pengguna laporan keuangan adalah neraca dan
laba rugi. Berikut merupakan penjelasan mengenai neraca dan laba rugi:
·
Neraca
Neraca atau
disebut juga posisi keuangan menggambarkan posisi keuangan perusahaan dalam
suatu tanggal tertentu, sering disebut per tanggal tertentu misalnya per
tanggal 31 Desember 20017. Posisi yang digambarkan dibagi menjadi dua posisi yaitu sisi debit
untuk Aset dan sisi kredit untuk Liabilitas (Harahap, 2011 : 209). Dalam neraca
terdapat klasifikasi yaitu:
1) Aset
(Aktiva)
PSAK mendefinisikan “Aset merupakan keuntungan ekonomi yang
diperoleh atau dikuasai dimasa yang akan datang oleh lembaga tertentu sebagai
akibat transaksi yang sudah berlaku”. Aset ini terdiri dari tiga bagian yaitu :
·
Aset Lancar
Aset lancar
merupakan kas dan sumber daya lainnya yang diharapkan dapat dijual, ditagih
atau digunakan selama satu tahun atau satu siklus operasi perusahaan. Adapun
contoh dari aset lancar yaitu: kas,
piutang usaha/dagang, persediaan, perlengkapan, peralatan kantor, biaya dibayar
dimuka. Dalam penyusunan aset lancar harus didasarkan pada likuiditasnya, yaitu
kemampuan aset untuk diubah menjadi kas.
·
Aset Tetap
Aset tetap
merupakan aset berwujud yang diperoleh untuk digunakan dalam kegiatan operasi
perusahaan dimana masa manfaat aset ini lebih dari satu tahun, kecuai tanah
disusutkan. Contoh dari aset tetap yaitu: peralatan, kendaraan, bangunan,
mesin.
·
Aset Tak Berwujud
Aset tak
berwujud merupakan aset yang diperoleh untuk digunakan dalam kegiatan operasi
perusahaan.Perbedaan yang mendasar dari aset tetap dan aset tak berwujud yaitu
fisik dan masa manfaat yang dapat diperoleh perusahaan.Dimana aset tak berwujud
tidak memiliki bentuk fisik dan masa manfaat atas aset tersebut karena tidak
pasti.
2) Liabilitas
(Kewajiban)
Menurut Harahap (2012 : 211) menyatakan kewajiban adalah jumlah
yang harus dipindahkan setiap tutup buku ke periode tahun berikutnya
berdasarkan pencatatan yang sesuai dengan prinsip akuntansi. Liabilitas terdiri
dari dua bagian yaitu kewajiban 15 lancar dan kewajiban jangka panjang serta
modal pemilik.
·
Kewajiban Lancar
Suatu dapat
diklasifikasikan sebagai liabilitas lancar jika dalam jangka waktu dua belas
bulan dapat diselesaikan dari tanggal laporan posisi keuangan atau siklus
normal operasi perusahaan. Sebagai contoh yaitu hutang usaha dan hutang bank
(jatuh tempo kurang satu tahun).
·
Kewajiban Jangka Panjang
Suatu
kewajiban jangka panjang jika perkiraan penyelesaian lebih dari satu tahun dari
tanggal laporan posisi keuangan.Contoh yaitu hutang obligasi dan hutang bank.
·
Modal Pemilik
Modal
pemilik merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yang merupakan nilai sisa
dari aset suatu perusahaan setelah dikurangi dengan liabilitas.
·
Laba rugi
Laba rugi
adalah sebuah laporan terperinci mengenai seluruh pendapatan dan biaya untuk
mengetahui laba rugi yang diterima perusahaan selama periode tertentu. Adapun
unsur-unsur dalam laporan laba rugi menurut (Harahap, 2013 : 241) antara lain:
1) Pendapatan
Pendapatan adalah hasil yang diterima perusahaan dari penjualan
barang atau jasa yang dibebankan kepada pelanggan yang menerima jasa.
2) Beban
Beban adalah arus kas keluar aset atau munculnya pasiva selama suatu periode yang disebabkan oleh pengiriman barang atau kegiatan lain perusahaan untuk mencari laba, yang dapat menjadi pengurang penghasilan.
3) Laba/Rugi
Laba/rugi adalah selisih antara pendapatan dan total beban usaha
pada periode tersebut. Jika selisih tersebut positif maka akan menghasilkan
laba, sedangkan jika selisih tersebut negatif maka akan menghasilkan rugi
usaha. Berdasarkan PSAK/Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan menyebutkan lima
jenis laporan keuangan:
·
Laporan laba rugi digunakan untuk mengetahui apakah perusahaan
mengalami keuntungan atau kerugian dalam periode tertentu.
·
Laporan perubahan modal digunakan untuk mengetahui apakah modal
perusahaan bertambah atau berkurang dalam satu periode tertentu.
·
Neraca digunakan untuk mengetahui jumlah harta, hutang dan
modalperusahaan dalam satu periode tertentu.
·
Laporan arus kas digunakan
untuk mengetahui berapa pertambahan ataupun pengurangan kas perusahaan dalam
satu periode tertentu.
·
Catatan atas laporan keuangan digunakan untuk menjelaskan secara
rinci atau detail mengenai keadaan perusahaan.
1.
Pengertian
analisis laporan keuangan
Menurut Djarwanto (2004:59) analisis laporan keuangan meliputi
penelaahan tentang hubungan dan kecenderungan atau trend untuk mengetahui
apakah keadaan keuangan, hasil usaha, dan kemajuan perusahaan memuaskan atau
tidak memuaskan.
Sedangkan menurut Harahap (2008: 64) analisis laporan keuangan
adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih
kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna
antara yang satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun dan
nonkuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang
sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.
Dari pengertian analisa keuangan di atas dapat disimpulkan bahwa
analisa laporan keuangan dapat membantu memecahkan permasalahan-permasalahan
yang timbul dalam suatu organisasi sehingga menghasilkan keputusan yang tepat
dan tidak untuk memperoleh laba.
2.
Tujuan
analisis laporan keuangan
Dengan melakukan analisis laporan keuangan maka informasi yang
dibaca dari laporan keuangan lebih luas dan lebih dalam. Hubungan satu pos
dengan pos yang lain akan dapat menjadi indicator tentang posisi dan prestasi
keuangan perusahaan serta menunjukkan bukti kebenaran penyusunan laporan
keuangan.
Tujuan analisis laporan keuangan menurut Hermanto dan Agung (2000:
19) adalah untuk mengambil perencanaan dan kontrol guna menjamin tercapainya
tujuan perusahaan dalam mencapai rentabilitas yang memuaskan dan dapat menjamin
posisi keuangan yang sehat. Menurut Harahap (2008: 32) tujuan analisa laporan
keuangan adalah:
1. Dapat
memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam dari pada yang terdapat dari
laporan keuangan biasa.
2. Dapat
menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu
laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit).
3. Dapat
mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat
membongkar hal-hal yang tidak konsisten dalam hubungnnya dalam suatu laporan
keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
5. Mengetahui
sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan modelmodel dan teori-teori
yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi, peningkatan atau rating.
6. Dapat
memberikan peringkat (rating) perusahaan menurut criteria tertentu yang sudah
dikenal di dalam dunia bisnis.
7. Dapat
membandingkan situasi dengan perusahaan lian denagn periode sebelumnya atau
dengan standar industry normal atau standar ideal.
8. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan
yang dialami perusahaan baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan
dan sebagainya.
9. Biasanya
memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan
datang.
Sedangkan menurut Bertein dalam Harahap (2008:197) tujuan analisa
laporan keuangan sebagai berikut:
1.
Screening.
Analisa
dilakukan secara analisis laporan keuangan dengan tujuan untuk memilih
kemungkinan investasi atau merger.
2.
Forcasting.
Analasis
digunakan untuk meramal kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
3.
Diagnosis.
Analisis
dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya masalah-masalah yang terjadi dalam
manajemen, operasi,keuangan atau masalah lainnya.
4.
Evaluation.
Analisis
dilakukan untuk menilai prestasi manajemen, operasional, efisiensi dan
lain-lain.
Dari defenisi tujuan analisa laporan keuangan di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa keputusan yang diambil untuk perencanaan dalam
mencapai tujuan dan menambahkan informasi yang akan dapat menjamin posisi
keuangan yang sehat dan informasi mentah yang dibaca dari laporan keuangan akan
menjadi luas dan lebih dalam. Hubungan satu pos dengan pos lainnya akan dapat
menjadi indicator tentang posisi dan prestasi keuangan perusahaan.
3.
Metode dan
teknik analisis laporan keuangan
Banyak teknik yang dipakai dalam analisis laporan keuangan. Teknik
ini merupakan cara bagaimana kita melakukan analisis. Dengan demikian metode
dan teknik analisa sangat dibutuhkan oleh seorang analis untuk mengukur hubungan
pos-pos yang ada dalam laporan keuangan.
Beberapa teknik analisis laporan keuangan menurut Hermanto dan
Agung (2000: 37) adalah sebagai berikut:
1. Methode
komparatif.
Metode ini
digunakan dengan memanfaatkan angka-angka laporan keuangan dan membandingkan
dengan angka-angak laporan keuangan. Perbandingan ini dapat dilakukan melalui
perbandingan berikut ini:
a.
Perbandingan dalam beberapa tahun (horizontal).
b.
Perbandingan satu tahun buku.
c.
Perbandingan dengan perusahaan terbaik.
d. Perbandingan
dengan anggaran perusahaan.
2. Rasio
adalah gambaran situasi perusahaan pada suatu
waktu tertentu dan dari gambaran ini sebenarnya dapat kita bayangkan
kecenderungan (ternd) situasi perusahaan di masa yang akan datang melalui
gerakan yang terjadi di masa lampau sampai masa kini. Analisis ini harus
menggunakan teknik perbandingan laporan keuangan beberapa tahun dan dari sini
digambarkan ternnya dalam bentuk grafik.
2. Common size
financial statement (laporan dalam bentuk awam).
Metode ini
merupakan metode analisis yang menyajikan laporan keuangan dalam bentuk
persentasi.Persentasi ini biasanya dikaitkan dengan suatu jumlah yang dinilai
penting misalnya assets untuk neraca, penjualan untuk laba rugi.
3. Methode
indeks time series.
Dalam metode
ini dihitung indeks dan digunakan untuk mengoversikan angka-angka laporan
keuangan.Biasanya ditetapkan tahun dasar yang diberi indeks 100.
4. Analisis
sumber dan penggunaan kas dan dana.
Analisis
sumber dan penggunaan dana dilakukan dengan menggunakan laporan keuangan dua periode.
Laporan ini dibandingkan dan dilihat mutasinya.Setiap mutasi mempunyai pos
lainnya.
5. Rasio
laporan keuangan.
Analisis
rasio merupakan alat analisa seperti halnya analisa komperatif dan analisa
tern. Analisa rasio yang menghubungkan unsur neraca dengan unsur laba rugi
dapat memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian posisi
keuangan di masa lalu dengan masa sekarang serta perubahan di masa yang akan
datang “future oriented”.
Menurut Harahap (2008: 62) rasio keuangan adalah angka yang
diperoleh dari hasil perbandingan dari satu laporan keuangan dengan pos lainnya
yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti). Misalnya antara
hutang dan modal, antara kas dan total asset, antara harga pokok produksi
dengan total penjualan dan sebagainya. Rasio keuangan yang sering digunakan
adalah rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas/rentabilitas, aktivitas,
pertumbuhan, market based (penilaian pasar) dan produktivitas.
Menurut Suad (2006: 44) untuk melakukan analisis rasio keuangan,
diperlukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang mencerminkan aspek-aspek
tertentu.Rasio-rasio keuangan mungkin dihitung berdasarkan atas angka-angka
yang ada dalam neraca saja, dalam laporan rugi laba saja, atau peda neraca dan
rugi laba.Setiap analis keuangan bisa saja merumuskan rasio tettentu yang
dianggap menerminkan aspek tertentu.
Menurut Hanafi dan Halim
(2003: 34) pada dasarnya analisa rasio dapat dikelompokkan kedalam 5 macam
kategori, yaitu:
1. Rasio
likuiditas. Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka pendeknya.
2. Rasio
aktivitas. Rasio yang mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan
3. assets
dengan melihat tingkat aktivitas assets.
4. Rasio
solvabilitas. Rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan peusahaan memenuhi
kewajiban jangka panjang.
5. Rasio
profitabilitas. Rasio yang melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
(profitabilitas).
6. Rasio pasar.
Rasio ini melihat perkembangan nilai perusahaan relative terhadap nilai buku
perusahaan. Menurut Brigham (2001: 79), mengelompokkan rasio-rasio keuangan
menjadi beberapa kelompok :
1. Rasio
Likuiditas, menunjukkan hubungan kas dan aktiva lancar lainnya dengan kewajiban
lancar.
2. Rasio
leverage , penggunaan pembiayaan dengan utang.
3. Rasio
profitabilitas, sekelompok rasio yang memperlihatkan pengaruh gabungan dari
likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang terhadap hasil operasi.
4. Rasio nilai
pasar, sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham perusahaan dengan laba
dan nilai buku per saham.
Sedangkan menurut Harahap (2008: 69) dalam menafsirkan laporan
keuangan kita memerlukan alat pembanding agar rasio itu bermakna dan dapat kita
nilai prestasi atau posisi perusahaan dan skala industrinya.Alat pembanding ini
merupakan yardstick atau standar. Untuk mendapatkan rasio pembanding rasio
pembanding atau yardstick maka dapat digunakan:
1. Rasio
perusahaan yang terbaik dalam industri yang bersangkutan. Untuk melihat
prestasi suatu perusahaan kita bisa membandingkannya dengan perusahaan sejenis
yang dikenal memiliki prestasi. Misalnya untuk indusri penerbangan kita bisa
menjadikan SIA (Singapore Airline) sebagai standar.
2. Budget
(anggaran) perusahaan. Untuk menilai prestasi perusahaan tahun berjalan, kita
bisa menggunakan anggaran yang sudah disahkan perusahaan. Prestasi riil dibandingkan
dengan budget (baik nominal maupun rasio) dan diketahui penyimpangan (varian).
Penyimpangan inilah yang akan dicari penyebab terjadinya sekaligus menjadi
dasar dalam menilai prestasi perusahaan.
3. Standar
ilmiah. Untuk hal-hal tertentu kita bisa mendapatkan standar yang dibuat
pabrikan atau lembaga ilmiah. Standar ini bisa dijadikan yardstick untuk menilai
prestasi perusahaan.
4. Rasio yang
dikeluarkan lembaga atau badan pengatur (regulator). Khusus untuk mengawasi
atau membina sector-sektor industry tertentu biasanya lembaga pengatur
mengeluarkan standar, rasio atau angka-angka yang harus dipenuhi oleh
perusahaan. Departemen Keuangan mengatur dan mengawasi perusahaan asuransi,
Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) mengawasi perusahaan yang go public.
5. Rata-rata industri
atau industrial norm.
6. Karena
pentingnya standar atau yardstick ini maka muncul perusahaanperusahaan yang
khusus mencari dan menerbitkan rasio-rasio laporan keuangan.
Agar dapat memberikan penilaian dan manfaat yang lebih jelas
terhadap pengguna laporan keuangan serta memberikan struktur yang coherent dari
beberapa rasio dan ukuran yang terlibat maka pembahasan akan dibangun dalam 3
sudut pandang utama yang kita ambil dalam analisis kinerja keuangan yaitu
sebagai berikut:
1. Pemilik
(investor). Ditinjau dari sudut pandang pemilik (investor) sebagai pengguna
laporan keuangan, analisis rasio keuangan penting bagi pemilik (investor) salah
satunya pada profitabilitas yaitu Return On Invesment (ROI).
2. Manajemen.
30 Ditinjau dari sudut pandang manajemen sebagai pengguna laporan keuangan,
analisis rasio keuangan diperlukan bagi manajemen sebagai alat analisis
operasional dan profitabilitas. Analisis operasional diukur dengan gross profit
margin, net profit margin, operating income margin dan profitabilitas diukur
dari Return on Total Asset (ROA).
3. Kreditur.
Ditinjau dari sudut pandang kreditur analisis rasio keuangan diperlukan sebagai
alat analisis likuiditas dan solvabilitas. Likuiditas diukur dari current ratio
dan solvabilitas diukur dari debt to assets dan debt to equity.
1.
Pengertian
Bank
Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998 tentang ”Perbankan”
menyebutkan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit
dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak. Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan Prinsip syariah yang dalam kegiatannya
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2.
Laporan
Keuangan
Bank Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Standar
Akuntansi Keuangan, laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan
keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba
rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai
cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan
laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari
laporan keuangan. (Ikatan Akuntan Indonesia, 2007)
3.
Manfaat Laporan
Keuangan
Tujuan dari pelaporan keuangan untuk menyediakan informasi yang
bermanfaat kepada investor, kreditor dan pemakai lainnya, baik yang sekarang
dan potensial pada pembuatan keputusan investasi, kredit dan keputusan sejenis
secara rasional.Tujuan kedua pelaporan keuangan untuk menyediakan informasi
untuk membantu investor, kreditor, dan pemakai lainnya baik yang sekarang
maupun yang potensial dalam menilai jumlah, waktu dan ketidakpastian dari
prospective penerimaan kas dari deviden atau bunga.
4.
Kerangka
Pemikiran
Tingkat
Kesehatan Perbankan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan.Laporan
Keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi
mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan posisi keuangan
perusahaan yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang
tepat, dengan caramelakukan analisis dalam bentuk rasio – rasio keuangan.
Sebagai
salah satu lembaga keuangan di Indonesia, bank perlu menjaga kinerjanya agar dapat
beroperasi secara optimal.Menurut Kasmir (2011) untuk menilai kondisi keuangan sebuah
perusahaan perbankan dapat dilihat dari laporan keuangan bank yang
menggambarkan kinerja keuangan bank tersebut.Ukuran kinerja bank yang digunakan
untuk menilai kinerja keuangan yaitu rasio keuangan bank itu sendiri.Bank Tabungan
Negara (BTN) merupakan Bank milik pemerintah yang fokus utamanya pada pembiayaan
perumahan di Indonesia.Dengan posisi yang strategis tersebut maka BTN merupakan
bank yang penting keberadaannya untuk mensejahterakan rakyat.Usaha untuk
mendeteksi tanda – tanda awal keberangkrutan menjadi suatu penting diketahui
oleh manajemen maupun investor memalui tingkat kesehatan dari bank itu
sendiri.Untuk itu penelitian ini menggunakan rasio keuangan bank yangdigunakan yaitu
CAR, LDR, BOPO, dan ROA.Berikut ini adalah gambar kerangka penelitian.
Tabel 2. Kinerja Keuangan BTN periode 2012
sampai dengan 2016
|
Rasio
Keuangan |
Tahun |
Mean |
||||
|
2012 |
2013 |
2014 |
2015 |
2016 |
||
|
CAR |
17. |
15.62 |
14.64 |
16.97 |
20.34 |
17.052 |
|
ROA |
1.94 |
1.79 |
1.14 |
1.61 |
1.76 |
1.648 |
|
BOPO |
80.74 |
82.19 |
88.97 |
84.83 |
82.48 |
83.842 |
|
LDR 102.66 105.044 |
100.90 |
104.02 |
108.86 |
108.78 |
102.66 |
105.044 |
Kinerja CAR
Bank Tabungan Negara (Tbk).
Capital
Adequacy Ratio (CAR) merupakan ratio kecukupan modal bank yaitu perbandingan
antara Total Modal Bank dengan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Ratio
ini mengukur seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko ikut
dibiayai dari dana modal bank sendiri, CAR adalah kinerja bank untuk mengukur
kecukupan modal bank untuk menunjang aktiva yang mengandung resiko, dengan kata
lain CAR merupakan indicator kemampuan bank untuk menutup penurunan aktiva
sebagai akibat dari kerugian– kerugianyang disebabkan oleh aktiva yang
mengandung resiko (Lukman Dendawijaya. 2005) Nilai dari variabel CAR yang
digambarkan pada tabel 5.1 diatas memperlihatkan nilai rata- rata dari 5 tahun
kinerja keuangan bank tersebut memiliki nilai 17,052. Dengan nilai rata – rata
sebesar tersebut maka nilai CAR ini menunjukan bahwa kinerja CAR Bank Tabungan Negara
mesih dapat dikatagorikan sehat.Kategori tersebut dilihat dari nilai CAR yang
di syaratkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar sebesar 15% s/d 20 %.
Kinerja LDR
Bank Tabungan Negara (Tbk).
Loan
to Deposoit Ratio (LDR) adalah ratio yang memggambarkan likuiditas bank yang menyatakan
seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan
deposant dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagi sumber
likuiditasnya.Nilai dari variabel LDR yang digambarkan pada tabel 5.1 diatas
memperlihatkan nilai rata- rata dari 5 tahun kinerja keuangan bank tersebut
memiliki nilai 105,004.Dengan nilai rata – rata sebesar tersebut maka nilai LDR
tersebut menunjukan bahwa kinerja LDR Bank Tabungan Negara mesih dapat
dikatagorikan sehat.Kategori tersebut dilihat dari nilai LDR yang di syaratkan
oleh Bank Indonesia yaitu Lebih dari 50%.
Kinerja BOPO
Bank Tabungan Negara (Tbk).
Ratio
Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) digunakan untuk mengukur
tingkat effisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya.Semakin
tinggi ratio BOPO menunjukkan tigkat efisiensi semakin kurang baik karena biaya
operasi semakin meningkat dibandingkan dengan pendapatan operasional.Nilai dari
variabel BOPO yang digambarkan pada tabel 5.1 diatas memperlihatkan nilai rata-
rata dari 5 tahun kinerja keuangan bank tersebut memiliki nilai 83.842. Dengan
nilai rata – rata sebesar tersebut maka rasio BOPO tersebut menunjukan bahwa
kinerja BOPO Bank Tabungan Negara mesih dapat dikatagorikan sehat, dengan rasio
BOPO diharapkan semakin meningkatnya BOPO maka semakin meningkat pula laba yang
diperoleh.
Kinerja ROA
Bank Tabungan Negara (Tbk).
Return
on Asset (ROA) adalah kemampuan manajemen bank dalam memperoleh laba secara
keseluruhan, semakin besar ROA suatu bank maka semakin baik pulu posisi bank tersebut
dari sisi penggunaan asset Nilai dari variabel ROA yang digambarkan pada tabel 5.1
diatas memperlihatkan nilai rata- rata dari 5 tahun kinerja keuangan bank
tersebut memiliki nilai 1.648. Dengan nilai rata – rata sebesar tersebut maka
rasio dari ROA tersebut menunjukan bahwa kinerja ROA Bank Tabungan Negara mesih
dapat dikatagorikan sehat. Kategori tersebut dilihat dari nilai ROA yang di
syaratkan oleh Bank Indonesia yaitu Lebih dari 1.25%
Kesimpulan
Penulisan
artikel ilmiah ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis mengenai kondisi
dan kinerja keuangan berdasarkan pada kinerja keuangan dari rasio keuangan
yaitu CAR, ROA,BOPO dan LDR Bank Tabungan Negara. Data yang digunakan pada penelitian
ini adalah data annual report BTN tahun 2015. Dari keempat rasio tersebut menunjukan
bahwa tingkat kesehatan bank Tabungan Negara masih di Katagori sehat.
Agnes, S. (2005). Analisis Kinerja Keuangan dan
Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.
Djarwanto. (2004). Pokok-Pokok Analisis Laporan
Keuangan. BPFE : Yogyakarta.
Sutrisno. (2005). Manajemen Keuangan Teori, Konsep
dan Aplikasi. Ekonisi.
Wiarta, I., & Kurniasih, E. T. (2017). Analisis
Kinerja Keuangan Bank Tabungan Negara (Tbk). STIE Muhammadiyah Jambi.
1.
1.
Komentar
Posting Komentar